Demak Perkuat Ketahanan Masyarakat Hadapi Banjir Melalui Pembentukan Desa Tangguh Bencana

Kabupaten Demak, Jawa Tengah, terus memacu pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana alam, khususnya banjir yang menjadi persoalan tahunan.

Inisiatif ini merupakan wujud komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak dalam memberdayakan masyarakat desa agar mampu secara mandiri melakukan mitigasi dan penanggulangan bencana, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada bantuan dari pemerintah daerah.

Plt Kepala BPBD Demak, Agus Musyafak, mengungkapkan bahwa hingga saat ini telah terbentuk 36 Destana di wilayahnya. Program pembentukan Destana ini akan terus digalakkan untuk menjangkau lebih banyak desa yang berpotensi terdampak bencana.

"Desa Tangguh Bencana adalah desa yang memiliki kemampuan untuk mengelola risiko bencana secara mandiri. Mereka mampu melakukan identifikasi potensi bahaya, menyusun rencana kontingensi, serta melaksanakan tindakan-tindakan mitigasi dan penanggulangan bencana," jelas Agus.

Prioritas utama dalam pembentukan Destana adalah desa-desa yang terletak di sepanjang aliran sungai, terutama yang memiliki kondisi tanggul yang rawan jebol. Desa-desa ini dinilai paling rentan terhadap dampak banjir, sehingga membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih tinggi.

Selain pembentukan Destana, Pemkab Demak juga secara rutin menyelenggarakan pelatihan bagi para relawan dari berbagai unsur, seperti BPBD, PMI, TNI-Polri, dan Pramuka. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan para relawan dalam melakukan penanggulangan bencana.

Sekda Demak, Akhmad Sugiharto, menyampaikan bahwa salah satu pelatihan yang baru saja digelar adalah bimbingan teknis "Water Rescue" yang dilaksanakan di Jepara dengan melibatkan instruktur dari Basarnas. Pelatihan ini membekali para relawan dengan kemampuan untuk melakukan penyelamatan di air dengan lebih cepat dan efektif.

"Dalam pelatihan ini, kami menekankan pentingnya keselamatan diri sendiri. Relawan harus mampu menyelamatkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum dapat menyelamatkan orang lain," ujar Sugiharto.

Pelatihan ini juga menjadi ajang bagi para relawan dari berbagai desa untuk saling berkomunikasi dan berkoordinasi. Hal ini penting untuk membangun jaringan yang solid dan meningkatkan efektivitas penanggulangan bencana.

Sugiharto menambahkan bahwa Demak memiliki ribuan relawan kebencanaan. Namun, perlu adanya upaya untuk merangkul dan memberdayakan para relawan ini melalui forum dan pelatihan. Hal ini penting untuk menjaga semangat dan motivasi para relawan, serta memastikan bahwa keberadaan mereka diakui dan dihargai.

"Kami secara rutin mengadakan forum dan pelatihan untuk merangkul para relawan. Kami menyadari bahwa relawan bekerja dengan sukarela tanpa mengharapkan imbalan. Oleh karena itu, kami berusaha untuk memberikan dukungan dan apresiasi kepada mereka," pungkas Sugiharto.

Daftar Pelatihan untuk Relawan:

  • BPBD
  • PMI
  • TNI-Polri
  • Pramuka