Pemerintah Optimistis Devisa dari Pekerja Migran Indonesia Melonjak Signifikan pada 2025

Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan signifikan devisa yang dihasilkan oleh Pekerja Migran Indonesia (PMI) pada tahun 2025. Target yang ambisius ini ditetapkan sebesar Rp 439 triliun, melonjak tajam dari realisasi saat ini yang berada di angka Rp 253,3 triliun.

Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir Karding, menyampaikan optimisme ini seiring dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan penempatan PMI di berbagai negara mitra. Pemerintah menargetkan pengiriman lebih dari 400.000 PMI sepanjang tahun ini guna mencapai target devisa yang telah ditetapkan.

Karding mengungkapkan bahwa pemerintah tengah membidik sejumlah negara di berbagai benua, termasuk Eropa, sebagai tujuan penempatan PMI. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus melakukan pemantauan ketat terhadap kondisi ekonomi negara-negara mitra untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan para pekerja migran.

"Kami terus memantau perkembangan ekonomi di negara-negara tujuan. Kondisi ekonomi yang stabil menjadi faktor penting dalam penempatan PMI," ujar Karding.

Dalam sebuah acara seremonial yang diadakan di Menara Kadin, Kementerian P2MI bersama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia secara simbolis melepas 5.000 PMI yang akan bekerja di delapan negara. Negara-negara tujuan tersebut meliputi:

  • Taiwan
  • Jepang
  • Uni Emirat Arab (UEA)
  • Arab Saudi
  • Jerman
  • Slovakia
  • Turki
  • Dominika

Karding menjelaskan bahwa pelepasan 5.000 PMI ini merupakan momentum penting dalam memperkuat kerjasama antara pemerintah dan sektor swasta dalam upaya meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan PMI.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyatakan bahwa pengiriman PMI merupakan investasi strategis dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Ia menekankan bahwa PMI tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai duta bangsa yang membawa pengalaman dan membangun jaringan di negara-negara tempat mereka bekerja.

"Para PMI adalah duta bangsa kita. Mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga belajar, membangun jaringan, dan membawa nama baik Indonesia," kata Anindya.

Lebih lanjut, Anindya menegaskan komitmen Kadin untuk mendukung transformasi tenaga kerja migran dari sektor informal ke sektor formal. Kadin berupaya untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi PMI agar dapat bersaing di pasar kerja global dan memperoleh penghasilan yang lebih baik.

"Kami akan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas PMI agar mereka dapat bekerja di sektor formal dan mendapatkan penghasilan yang lebih baik," pungkas Anindya.