Ketua PCNU Pamekasan dan Istri Meninggal Dunia dalam Kecelakaan di Tol Pasuruan-Probolinggo
Kabar duka menyelimuti Nahdlatul Ulama (NU) dan masyarakat Pamekasan atas wafatnya Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan, KH. Taufik Hasyim, beserta istrinya, Nyai Hj. Amiroh. Pasangan suami istri ini menghembuskan nafas terakhir dalam sebuah kecelakaan tragis yang terjadi di jalan Tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro), pada Sabtu (14/6/2025) dini hari.
Kepergian KH. Taufik Hasyim meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar NU, para santri, kolega, dan seluruh masyarakat yang mengenalnya. Ucapan belasungkawa dan doa terus mengalir melalui berbagai platform media sosial, sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sosok yang dikenal visioner dan penuh semangat ini.
Beberapa jam sebelum kejadian nahas, KH. Taufik Hasyim masih sempat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan Akbar Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) se-Kabupaten Pamekasan periode 2025-2028, yang berlangsung di Mandhapa Agung Pamekasan. Dalam video yang beredar, tampak KH. Taufik Hasyim mengenakan sarung putih, kemeja putih, dan jas hitam, memberikan orasi yang membakar semangat para hadirin.
KH. Taufik Hasyim merupakan sosok yang sangat dihormati dan disegani di Pamekasan. Beliau menjabat sebagai Ketua PCNU Pamekasan selama dua periode, yakni 2016-2021 dan 2021-2026. Kepemimpinannya selama ini telah membawa banyak kemajuan bagi NU di Pamekasan, terutama dalam hal kaderisasi dan pengembangan organisasi. Almarhum dikenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap kemajuan NU dan kesejahteraan masyarakat.
Wakil Ketua PCNU Pamekasan, Taufiqur Rahman Khafi, menggambarkan KH. Taufik Hasyim sebagai sosok yang luar biasa, visioner, dan penuh semangat. Menurutnya, selama kepemimpinan KH. Taufik Hasyim, kaderisasi NU berjalan sangat baik. Semua Badan Otonom (Banom) di bawah naungan PCNU Pamekasan aktif bergerak, mulai dari Ansor, ISNU, Muslimat NU, Fatayat, dan banom lainnya.
Selain aktif dalam kegiatan organisasi, KH. Taufik Hasyim juga memiliki jiwa entrepreneurship yang tinggi. Beliau berhasil mendirikan perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) milik PCNU, yang terus berkembang pesat hingga saat ini. Salah satu cita-citanya yang belum sempat terwujud adalah membangun Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU). Meskipun demikian, proses pembelian lahan telah dilakukan dan beberapa investor menyatakan kesediaannya untuk bergabung dalam proyek tersebut.
KH. Taufik Hasyim juga dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Beliau selalu mengingatkan agar tidak menjelek-jelekkan presiden, siapapun orangnya. Hal ini sesuai dengan komitmennya untuk menegakkan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Baginya, presiden adalah orang pilihan yang mengemban amanah untuk memimpin negara. Jika ada permasalahan, maka biarlah penegak hukum yang mengadilinya.
Almarhum merupakan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) saat masih menjadi mahasiswa. Beliau memiliki komitmen yang sangat tinggi terhadap NU. Selain merupakan keturunan dari salah satu pendiri NU di Pamekasan, KH. Taufik Hasyim juga mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dan pernah belajar di Mekkah, di sekolah Syaikh Alwi Al-Maliki.
KH. Taufik Hasyim baru saja meraih gelar doktor pada akhir tahun 2024 di Universitas Islam Malang (Unisma) dalam program doktor ilmu pendidikan Islam multikultural. Selain menjabat sebagai Ketua PCNU Pamekasan, almarhum juga merupakan Pengasuh Ponpes Sumber Baru, Kaliglagah, Jember, Rektor IAI MU Pamekasan, dan pengurus PWNU Jawa Timur. Di tengah kesibukannya yang padat, beliau tidak pernah mengeluh dan selalu bersemangat.
Almarhum juga dikenal sebagai sosok yang gemar menulis. Bahkan, beliau pernah menerbitkan sebuah buku. Beliau adalah sosok yang komplet dan tidak pernah marah, sehingga disukai oleh banyak orang.
Menjelang berakhirnya masa jabatan sebagai Ketua PCNU Pamekasan, KH. Taufik Hasyim sempat mengumpulkan semua lembaga di internal PCNU Pamekasan dan semua Banom untuk menyelesaikan program kerja yang belum tuntas.
Kecelakaan maut yang merenggut nyawa KH. Taufik Hasyim dan istrinya terjadi di jalan Tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro), tepatnya di Kilometer 835, Sabtu (14/6/2025) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Mobil Toyota Innova Zenix yang mereka tumpangi menabrak sebuah truk dari belakang. Diduga, pengemudi mobil kehilangan konsentrasi saat berkendara di jalur lambat.
Kepergian KH. Taufik Hasyim dan istri merupakan kehilangan besar bagi NU dan masyarakat Pamekasan. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.