Lucy Guo: Dari *Drop Out* Kuliah Hingga Ratu Teknologi Dunia, Lampaui Popularitas Taylor Swift
Lucy Guo: Simbol Kesuksesan Generasi Muda di Industri Teknologi
Fenomena Lucy Guo, seorang tech entrepreneur berusia 30 tahun, mengukir namanya dalam daftar Forbes 10th Anniversary of America's Richest Self-Made Women tahun 2025, telah menarik perhatian dunia. Bukan hanya karena kekayaannya yang mencapai US$ 1,3 miliar (sekitar Rp 21 triliun), tetapi juga karena kisah perjalanan hidupnya yang inspiratif. Guo berhasil menggeser posisi Taylor Swift sebagai salah satu wanita terkaya di dunia, yang kini berada di peringkat ke-21 dengan total kekayaan US$ 1,6 miliar.
Kisah Inspiratif dari Keluarga Imigran
Lahir dari keluarga imigran Tiongkok, Guo menempuh pendidikan tinggi di Carnegie Mellon University, Pennsylvania, dengan mengambil jurusan Ilmu Komputer dan Interaksi Manusia-Komputer. Namun, panggilan jiwa untuk berwirausaha membawanya pada keputusan berani: drop out dari kuliah. Keputusan ini awalnya tidak direstui oleh orang tuanya.
"Mereka sempat kecewa dan berhenti berbicara dengan saya. Saya memahami kekhawatiran mereka, karena mereka merasa pengorbanan mereka sia-sia," ungkap Guo.
Namun, keberaniannya membuahkan hasil. Guo terpilih sebagai penerima Thiel Fellowship, sebuah program beasiswa bergengsi yang memberikan dana sebesar US$ 200.000 kepada anak muda yang memilih keluar dari universitas untuk membangun startup. Dengan bekal ini, Guo melangkah maju.
Dari Scale AI Hingga Passes
Guo kemudian turut mendirikan Scale AI, perusahaan teknologi yang fokus pada penyediaan data pelatihan untuk pengembangan kecerdasan buatan, termasuk untuk chatbot populer seperti ChatGPT milik OpenAI. Meskipun meninggalkan Scale AI pada tahun 2018 karena perbedaan visi, Guo tetap mempertahankan kepemilikan saham sebesar lima persen. Nilai valuasi Scale AI saat ini diperkirakan mencapai US$ 25 miliar, dan kepemilikan saham inilah yang menjadi sumber utama kekayaan Guo.
Tidak berhenti di situ, pada tahun 2022, Guo meluncurkan Passes, sebuah platform digital yang menghubungkan kreator konten dengan penggemar melalui layanan pesan berbayar, siaran langsung, dan podcast eksklusif. Platform ini berhasil menarik perhatian investor dan mendapatkan pendanaan sebesar US$ 50 juta hanya dalam dua tahun.
Beberapa tokoh ternama seperti aktris Bella Thorne dan musisi Kygo, tercatat menggunakan platform Passes.
Namun, Passes sempat menghadapi kontroversi hukum terkait tuduhan penyalahgunaan konten. Perusahaan membantah tuduhan tersebut dan menganggapnya sebagai upaya untuk merusak reputasi mereka.
Gaya Hidup yang Tetap Fokus pada Pekerjaan
Di balik kesuksesannya, Guo dikenal dengan gaya hidup yang sederhana dan fokus pada pekerjaan. Ia memiliki apartemen di Miami dan rumah di Los Angeles yang berjarak hanya lima menit dari kantornya. Guo sering terlihat pergi ke kantor dengan skateboard listrik atau diantar oleh asistennya.
"Saya bahkan makan siang di meja kerja karena terlalu sibuk," ujarnya.
Guo juga dikenal disiplin dalam berolahraga. Ia rutin mengikuti Barry’s Bootcamp dua kali sehari dan telah menyelesaikan lebih dari 3.000 kelas. Selain itu, ia juga gemar menghadiri festival musik dan sempat belajar menjadi DJ selama dua minggu. Meski menikmati hidup, Guo mengaku belum pernah mengambil liburan penuh.
"Bahkan saat liburan, saya tetap bekerja minimal delapan jam sehari," katanya.
Mendorong Representasi Perempuan di Dunia Teknologi
Selain sebagai pengusaha sukses, Guo juga aktif berinvestasi melalui perusahaan venture capital Backend Capital, yang telah mendanai lebih dari 100 startup. Ia sangat mendukung wirausaha perempuan dan menyuarakan keprihatinannya mengenai bias gender yang masih ada di dunia teknologi.
"Saya pikir secara bawah sadar, investor masih lebih percaya pada laki-laki untuk sukses, meskipun latar belakang mereka sama," tuturnya.
Guo juga menekankan bahwa membangun startup bukanlah jalan hidup bagi mereka yang mencari keseimbangan hidup. Meskipun saat ini menyandang gelar miliarder termuda, ia siap jika gelar tersebut diambil alih oleh perempuan lain.
"Saya justru senang jika gelar ini diambil orang lain, karena itu berarti dunia kewirausahaan terus tumbuh," pungkasnya.