Antam Pacu Ambisi Jadi Pemimpin Global di Sektor Mineral Strategis
PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tengah mengukuhkan posisinya sebagai pemain kunci dalam industri mineral strategis global melalui serangkaian transformasi bisnis yang ambisius. Langkah ini sejalan dengan program hilirisasi nasional yang dicanangkan pemerintah, dengan tetap memprioritaskan kepatuhan dan akuntabilitas dalam setiap operasionalnya.
Direktur Utama Antam, Achmad Ardianto, menegaskan komitmen perusahaan untuk memperkuat fundamental bisnis, terutama dalam eksplorasi dan operasi penambangan. Fokus utama adalah peningkatan tata kelola niaga komoditas strategis. Antam bertekad untuk menjadi pemimpin global dalam industri pertambangan yang berkelanjutan, dengan mengutamakan model eksplorasi dan operasi penambangan yang efisien serta tata kelola komoditas strategis yang kuat.
Selain peningkatan operasional, Antam juga berinvestasi besar dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan berintegritas. Budaya kerja yang adaptif juga terus dipupuk untuk menghadapi dinamika pasar global yang semakin kompleks. Hal ini dilakukan untuk mendukung agenda hilirisasi nasional yang menjadi prioritas perusahaan.
Target produksi yang ambisius telah ditetapkan untuk tahun 2025. Antam menargetkan produksi nikel mencapai 21 juta wet metrik ton (wmt) dan bauksit sebesar 5 juta wmt. Angka ini merupakan revisi dari rencana sebelumnya yang menargetkan produksi nikel sebesar 16,9 juta wmt dan bauksit 3,5 juta wmt. Sementara itu, produksi emas tahun ini ditargetkan mencapai 962 kilogram (kg), setara dengan 30.929 troy ounces.
Dari sisi penjualan, Antam membidik volume penjualan emas pada tahun 2025 mencapai 40.031 kg. Angka ini mendekati pencapaian tahun sebelumnya yang mencapai 43.776 kg. Guna mendukung target-target ambisius ini, Antam mengalokasikan investasi sebesar Rp 7 triliun atau sekitar 500 juta dollar AS.
Dana investasi tersebut akan digunakan untuk berbagai proyek pengembangan, termasuk pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) dan modernisasi fasilitas logam mulia di Gresik, Jawa Timur. Selain itu, investasi juga dialokasikan untuk penyelesaian proyek smelter grade alumina refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat.
Untuk membiayai investasi tersebut, Antam sedang menjajaki pendanaan dari sektor perbankan. Manajemen Antam meyakini bahwa neraca keuangan perusahaan yang kuat akan menopang pertumbuhan di masa depan. Proses penjajakan pendanaan ini diharapkan dapat segera diselesaikan dalam waktu dekat.