Variasi Layanan Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas: Studi Kasus di Jabodetabek Mengungkap Perbedaan

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digalakkan pemerintah melalui puskesmas di berbagai daerah menunjukkan adanya variasi dalam implementasi dan jenis layanan yang diberikan. Sebuah penelusuran di dua puskesmas berbeda di wilayah Jabodetabek memberikan gambaran tentang perbedaan tersebut.

Di Puskesmas Sukmajaya, Kota Depok, pengalaman mengikuti CKG terbilang komprehensif. Proses diawali dengan skrining mandiri melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile, mencakup pertanyaan seputar riwayat kesehatan dan gaya hidup. Petugas puskesmas memberikan arahan yang jelas, dan alur pemeriksaan terstruktur dengan baik. Pemeriksaan dilakukan di beberapa poli, tergantung jenisnya.

Sebaliknya, pengalaman di Puskesmas Tanah Abang, Jakarta Pusat, terasa lebih sederhana. Skrining mandiri tetap dilakukan, dan petugas cukup membantu dalam memberikan informasi. Namun, seluruh pemeriksaan, termasuk tes tekanan darah, gula darah sewaktu, lingkar pinggang, tinggi badan, berat badan, gigi, mata, skrining jiwa, serta tensi dan detak jantung, dilakukan di satu ruangan oleh seorang dokter dan tenaga kesehatan. Tidak ada pemeriksaan kolesterol, yang umumnya tersedia di layanan kesehatan publik lainnya. Hasil pemeriksaan kemudian dirangkum dalam secarik kertas, dan hasil resmi dikirimkan melalui aplikasi.

Perbedaan ini memunculkan pertanyaan tentang standar layanan CKG yang seharusnya diberikan di setiap puskesmas. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mengakui adanya perbedaan paket pemeriksaan yang diberikan, bergantung pada usia, risiko kesehatan, dan status pernikahan peserta.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes RI, dr. Maria Endang Sumiwi, MPH, menjelaskan bahwa pemeriksaan jantung, stroke, dan gagal ginjal diprioritaskan untuk usia 40 tahun ke atas. Pemeriksaan kanker payudara dan leher rahim ditujukan untuk wanita usia 30 tahun ke atas, sementara skrining kanker usus dan paru-paru dimulai pada usia 45 tahun ke atas. Calon pengantin juga akan mendapatkan pemeriksaan tambahan.

Pemeriksaan juga disesuaikan dengan risiko kesehatan individu. Jika seseorang berusia 40 tahun ke atas tidak memiliki riwayat hipertensi atau diabetes melitus, pemeriksaan jantung, stroke, dan ginjal mungkin tidak dilakukan. Kelompok usia 18-40 tahun yang sehat umumnya hanya akan menerima pemeriksaan standar seperti cek tekanan darah, gula darah, lingkar perut, tinggi badan, berat badan, mata, gigi, dan skrining kesehatan.

Kemenkes menyadari bahwa belum semua puskesmas memiliki fasilitas yang lengkap. Saat ini, sekitar 60% puskesmas di Indonesia memiliki peralatan yang memadai untuk melakukan seluruh pemeriksaan yang dibutuhkan. Namun, pemerintah terus berupaya meningkatkan fasilitas kesehatan melalui Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2025 tentang Percepatan Peningkatan Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan Primer dan Pelayanan Kesehatan Lanjutan untuk Mendukung Transformasi Kesehatan. Instruksi ini mengamanatkan pemerintah daerah untuk meningkatkan fasilitas kesehatan, alat kesehatan, serta kualitas dan mutu pelayanan kesehatan di tingkat primer dan lanjutan.

Program CKG diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini penyakit. Dengan adanya variasi layanan, penting bagi masyarakat untuk memahami jenis pemeriksaan yang tersedia dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Perbandingan jenis layanan CKG yang disediakan dua Puskesmas:

  • Puskesmas Sukmajaya, Depok: Alur pemeriksaan terstruktur, skrining mandiri SATUSEHAT, pengecekan riwayat kesehatan dan gaya hidup, pemeriksaan berpindah-pindah poli sesuai kebutuhan.
  • Puskesmas Tanah Abang, Jakarta Pusat: Skrining mandiri SATUSEHAT, pemeriksaan dilakukan di satu ruangan, tidak ada pengecekan kolesterol.