Polusi Batu Bara Hantui Warga Marunda: Dampak Kesehatan dan Lingkungan Semakin Mengkhawatirkan
Warga Marunda, Jakarta Utara, kembali menghadapi masalah serius terkait polusi batu bara. Setelah sempat mereda pada tahun 2022 lalu akibat protes warga terhadap aktivitas bongkar muat batu bara di dekat Rusunawa Marunda, kini masalah tersebut muncul kembali dengan lokasi yang berbeda.
Perpindahan Lokasi Bongkar Muat Batu Bara
Menurut penuturan Abdullah (42), seorang warga Marunda, aktivitas bongkar muat batu bara kini dipindahkan ke dermaga baru yang lokasinya berada di samping kampung mereka. Dermaga ini terletak sekitar tiga hingga empat kilometer dari pesisir Marunda, tepatnya di tengah laut, sehingga akses menuju lokasi harus menggunakan perahu. Meskipun lokasi dermaga berada di tengah laut, warga tetap merasakan dampak negatif dari aktivitas bongkar muat batu bara tersebut.
Dampak Polusi Batu Bara Terhadap Kesehatan Warga
Jika sebelumnya warga mengeluhkan debu batu bara, kali ini keluhan utama adalah asap hitam yang dihasilkan dari aktivitas bongkar muat. Asap hitam ini, menurut Abdullah, terbawa angin ke arah Marunda Ujung, terutama pada siang hari sekitar pukul 11.00 hingga 14.00 WIB. Dampak dari paparan asap ini sangat dirasakan oleh warga, terutama masalah pernapasan.
Banyak warga yang mengalami gejala seperti TBC, batuk, dan sesak napas. Selain masalah pernapasan, warga juga mengeluhkan peningkatan suhu udara di sekitar Marunda akibat panas yang dihasilkan dari batu bara yang bercampur dengan panas matahari.
Pencemaran Air Laut
Selain masalah polusi udara, warga juga mengkhawatirkan pencemaran air laut. Mereka menduga bahwa aktivitas bongkar muat batu bara menyebabkan penurunan kualitas air laut. Batu bara yang diangkut oleh kapal tongkang seringkali menyebabkan tumpahan minyak batu bara ke laut.
Selain itu, warga juga menduga bahwa pencucian kapal tongkang di laut setelah mengangkut batu bara turut memperburuk kondisi air laut. Akibatnya, air laut di sekitar dermaga menjadi berminyak dan berwarna hitam.
Tuntutan Warga Marunda
Warga Marunda sangat berharap agar aktivitas bongkar muat batu bara dihentikan. Mereka meminta pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk segera turun tangan dan meninjau langsung kondisi masyarakat pesisir Marunda. Warga merasa bahwa selama ini pemerintah hanya menerima laporan dari pejabat daerah yang belum tentu sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Warga juga mendesak Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Jawa Barat untuk ikut campur dalam menyelesaikan masalah ini, mengingat lokasi dermaga berada di perbatasan antara Bekasi dan Jakarta. Mereka khawatir jika tidak ada tindakan nyata dari pemerintah, akan terjadi aksi yang tidak diinginkan.
Daftar Keluhan Warga:
- Polusi udara berupa asap hitam
- Masalah pernapasan (TBC, batuk, sesak napas)
- Peningkatan suhu udara
- Pencemaran air laut (tumpahan minyak batu bara, pencucian kapal tongkang)
Warga Marunda sangat berharap agar pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk mengatasi masalah polusi batu bara ini demi kesehatan dan kelestarian lingkungan mereka.