Tragedi Air India: Dugaan Tabrakan Burung Picu Jatuhnya Pesawat Boeing 787 di Ahmedabad

Tragedi menimpa penerbangan Air India dengan nomor penerbangan yang belum dirilis, Kamis (12/6/2025) di Bandara Ahmedabad, India. Pesawat Boeing 787 yang sedianya menuju London, Inggris, jatuh tak lama setelah lepas landas, menewaskan seluruh 242 penumpang dan awak. Dugaan sementara mengarah pada tabrakan dengan sekawanan burung (bird strike) sebagai penyebab utama kecelakaan.

Mantan pilot dan pengamat penerbangan, Saurabh Bhatnagar, menyampaikan kepada NDTV bahwa indikasi awal menguatkan adanya "multiple bird hits", yakni tabrakan dengan sejumlah burung sekaligus. Bhatnagar menduga, tabrakan tersebut menyebabkan hilangnya daya dorong (thrust) pada kedua mesin pesawat.

"Lepas landas tampak normal. Namun, sebelum roda pendarat ditarik sepenuhnya, pesawat mulai kehilangan ketinggian. Ini mengindikasikan kehilangan tenaga," jelas Bhatnagar, mengutip laporan dari The Independent. Ia menambahkan, rekaman video yang beredar menunjukkan pesawat jatuh dalam kondisi yang relatif terkendali, sebuah ciri khas ketika pesawat mengalami masalah mesin namun masih dalam kendali pilot. Sayangnya, kendali tersebut tidak cukup untuk mencegah jatuhnya pesawat.

Fenomena bird strike, atau tabrakan burung dengan pesawat, bukanlah hal baru dalam dunia penerbangan. Burung, terutama dalam jumlah besar, dapat tersedot ke dalam mesin jet dan menyebabkan kerusakan serius, bahkan kegagalan mesin total. Berbagai upaya pencegahan telah dilakukan, termasuk penggunaan lampu tambahan pada pesawat dan suara keras di sekitar bandara untuk mengusir burung.

Menurut data dari Otoritas Penerbangan Sipil Inggris, terdapat 1.432 insiden tabrakan burung yang dilaporkan di Inggris pada tahun 2022. Profesor John McDermid dari University of York menyoroti bahwa kecelakaan Air India ini sangat mengejutkan karena terjadi pada ketinggian yang sangat rendah, kurang dari 200 meter dari permukaan tanah.

"Pesawat dirancang untuk tetap terbang dengan satu mesin. Kegagalan kedua mesin secara bersamaan pada tahap ini sangat jarang terjadi," tegas McDermid.

Data dari International Air Transport Association (IATA) menunjukkan bahwa dari 1.468 kecelakaan penerbangan yang tercatat sepanjang tahun 2024, sebagian besar (770) terjadi saat pendaratan, dan 124 saat lepas landas. Lebih dari 60% kecelakaan terjadi pada dua fase kritis ini.

Mary Schiavo, seorang analis transportasi, menjelaskan bahwa landasan pacu dan sekitarnya menciptakan tekanan tinggi bagi pilot dan pengendali lalu lintas udara. "Landasan pacu adalah zona bertekanan tinggi. Pendaratan bahkan lebih berisiko karena pilihan untuk bereaksi sangat terbatas dibandingkan saat lepas landas," ujarnya.

Guna meminimalkan risiko, aturan sterile cockpit diberlakukan sejak 1981. Aturan ini melarang percakapan atau aktivitas yang tidak esensial di bawah ketinggian 3.000 meter, sehingga pilot dapat sepenuhnya fokus pada pengoperasian pesawat.

Investigasi resmi atas kecelakaan ini akan dipimpin oleh Aircraft Accident Investigation Bureau India, dengan kemungkinan keterlibatan Air Accidents Investigation Branch Inggris, mengingat adanya warga negara Inggris di antara penumpang pesawat. Fokus awal investigasi tertuju pada dugaan tabrakan burung ganda, mengingat implikasinya yang serius terhadap keselamatan penerbangan komersial, terutama saat lepas landas yang dikenal sebagai fase paling kritis.

Dennis Tajer, juru bicara Allied Pilots Association, mengatakan kepada CNN bahwa "Saat pesawat mulai lepas landas, semuanya harus sempurna: kecepatan, arah, sistem, dan komunikasi. Sedikit gangguan bisa berakibat fatal."

Insiden ini menggarisbawahi pentingnya fokus berkelanjutan industri penerbangan pada keselamatan selama lepas landas dan mendarat, serta perlunya langkah-langkah pencegahan yang lebih ketat terhadap ancaman seperti bird strike.