Aksi Protes Kebijakan Imigrasi di Los Angeles Berujung Penjarahan Apple Store

Gelombang demonstrasi yang melanda Los Angeles, Amerika Serikat, sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan imigrasi yang digagas oleh Presiden Donald Trump, berubah menjadi aksi anarkis pada Selasa (10/6/2025). Awalnya berlangsung damai, unjuk rasa tersebut kemudian diwarnai dengan penjarahan dan vandalisme, menyasar sejumlah toko di pusat kota, termasuk gerai resmi Apple.

Dalam rekaman video yang viral di media sosial, terlihat sekelompok individu melakukan penjarahan di Apple Store. Mereka merusak etalase kaca, mengambil berbagai produk elektronik yang dipajang, dan mencoret-coret dinding toko sebagai bentuk ekspresi protes. Para pelaku, yang sebagian besar mengenakan pakaian serba hitam dan penutup wajah, segera melarikan diri setelah melakukan aksinya, meninggalkan beberapa barang curian di jalan.

Seorang pengguna X (Twitter) dengan akun @BGOnTheScene, Brendan Gutenschwager, bahkan mengunggah video yang menampilkan layar iPhone dengan pesan agar para pelaku mengembalikan perangkat curian tersebut ke Apple Tower Theatre. Pesan tersebut juga mengindikasikan bahwa perangkat telah dinonaktifkan dan dilacak, serta pihak berwenang telah diinformasikan.

Selain Apple Store, beberapa toko lain seperti gerai Adidas, apotek, toko perhiasan, dan restoran juga menjadi sasaran penjarahan. Di restoran Otoro Sushi, misalnya, massa merangsek masuk dan mencuri monitor komputer serta perlengkapan lainnya, seperti yang dilaporkan oleh New York Post.

Menanggapi situasi ini, Kepolisian Los Angeles telah menangkap setidaknya 14 orang yang diduga terlibat dalam penjarahan. Selain itu, sekitar 96 orang lainnya ditangkap karena melanggar perintah pembubaran diri. Pemerintah setempat juga memberlakukan jam malam di pusat kota Los Angeles mulai pukul 20.00 hingga 06.00 waktu setempat.

Kepala Departemen Kepolisian Los Angeles, Jim McDonnell, menjelaskan bahwa jam malam dikecualikan bagi penduduk di area tertentu, tunawisma, jurnalis, petugas keselamatan publik, dan personel darurat. Ia menegaskan bahwa siapa pun di luar kelompok pengecualian yang berada di area jam malam akan ditangkap. "Jam malam adalah tindakan yang diperlukan untuk melindungi nyawa dan properti setelah beberapa hari kerusuhan yang meningkat di seluruh kota," ujarnya.

Aksi unjuk rasa ini telah berlangsung sejak Jumat (6/6/2025) malam dan menyebar ke kota-kota lain seperti San Francisco, Santa Ana, Dallas, dan Austin, Texas. Beberapa kota melaporkan kerusuhan dan penggunaan kekuatan oleh aparat kepolisian, termasuk penggunaan gas air mata dan peluru karet. Meskipun demikian, sebagian besar demonstrasi berlangsung damai. Ribuan warga berkumpul di sekitar Balai Kota pada Senin (10/6/2025) dalam aksi solidaritas yang diorganisir oleh serikat pekerja. Namun, saat massa mulai membubarkan diri, polisi menembakkan peluru kendali massa dan mengamankan sejumlah orang.