IHSG Berusaha Rebound di Tengah Penguatan Rupiah, Data Inflasi AS Jadi Sorotan
Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai perdagangan hari ini dengan pergerakan fluktuatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terpantau berada di zona merah pada awal sesi, sebelum menunjukkan sinyal pemulihan.
Pada pukul 09.03 WIB, IHSG tercatat berada di level 7.221,45, mengalami penurunan tipis sebesar 0,98 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level 7.222,45. Aktivitas perdagangan diwarnai oleh 211 saham yang bergerak naik, sementara 165 saham mengalami penurunan, dan 215 saham lainnya stagnan.
Nilai transaksi yang tercatat hingga saat ini mencapai Rp 844,30 miliar, dengan volume perdagangan sebanyak 1,54 miliar saham.
Sementara itu, mata uang Rupiah menunjukkan tren positif dengan mengalami penguatan di pasar spot. Data Bloomberg menunjukkan pada pukul 09.06 WIB, Rupiah berada pada level Rp 16.243 per dollar AS, menguat sebesar 17 poin atau 0,10 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 16.260 per dollar AS.
Maximilianus Nico Demus, Direktur Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menyoroti data inflasi Amerika Serikat (AS) sebagai faktor yang mempengaruhi pergerakan pasar. Data inflasi bulanan AS menunjukkan penurunan dari 0,2 persen menjadi 0,1 persen. Meskipun demikian, inflasi tahunan mengalami kenaikan tipis dari 2,3 persen menjadi 2,4 persen. Inflasi inti secara bulanan juga mengalami penurunan dari 0,2 persen menjadi 0,1 persen, sementara secara tahunan tetap stabil di level 2,8 persen.
Menurut Maximilianus, stabilnya inflasi inti mengindikasikan bahwa gejolak tarif belum memberikan tekanan signifikan terhadap inflasi. Hal ini dimungkinkan karena beban yang ditanggung perusahaan masih dalam batas toleransi, serta ketersediaan bahan pokok dari persediaan sebelumnya yang mencukupi untuk memenuhi permintaan, sehingga harga dapat terjaga.
Optimisme muncul terkait potensi penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, The Fed, pada bulan September jika inflasi tetap stabil di bawah 3 persen.
"Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance di level 7.120–7.330," ungkap Maximilianus.
Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, menambahkan bahwa IHSG mengalami koreksi minor kemarin, namun masih berada di atas level 7.083. Tren naik diperkirakan akan berlanjut dengan potensi menembus resisten terdekat di 7.261.
Ivan memproyeksikan level support IHSG berada di 7.083, 6.994, 6.929, dan 6.811, sementara level resistance berada di 7.261, 7.345, dan 7.444. Indikator MACD menunjukkan kondisi netral.
Bursa kawasan Asia menunjukkan kinerja yang beragam. Strait Times naik 0,31 persen (12,32 poin) di level 3.931,37, Shanghai Composite naik 0,10 persen (3,51 poin) di level 3.339,81. Sementara itu, Nikkei turun 0,67 persen (257,19 poin) di level 38.164,00, dan Hang Seng turun 0,69 persen (167,34 poin) di level 24.119,58.
Lukman Leong, Analis Mata Uang Doo Financial Futures, memprediksi Rupiah akan terus menguat terhadap Dollar AS. Penurunan Dollar AS dipicu oleh data inflasi AS bulan Mei yang lebih rendah dari perkiraan, sehingga meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Selain itu, sentimen risk on di pasar ekuitas, didorong oleh inflow asing, juga akan mendukung penguatan Rupiah. Lukman memperkirakan pergerakan Rupiah hari ini akan berada di rentang 16.200-16.300.