Gelombang Kekerasan Mengguncang Kolombia: Serangan Bom dan Bersenjata Tewaskan Warga Sipil dan Polisi

Gelombang kekerasan yang terkoordinasi mengguncang wilayah barat daya Kolombia, menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai puluhan lainnya. Serangan yang terjadi pada Selasa (10/6/2025) ini menyasar berbagai target, termasuk fasilitas kepolisian, kantor pemerintahan, dan infrastruktur sipil di beberapa kota dan wilayah.

Lebih dari dua lusin serangan simultan dilaporkan terjadi di Kota Cali, kota terbesar ketiga di Kolombia, serta di Villa Rica, Guachinte, dan Corinto. Menurut Kepala Kepolisian Nasional Kolombia, Jenderal Carlos Fernando Triana, kelompok gerilya lokal diduga kuat menjadi dalang serangan tersebut. Kelompok bersenjata ini menggunakan berbagai metode, termasuk bom mobil, bom sepeda motor, senapan serbu, dan kemungkinan penggunaan drone bersenjata.

Rincian Serangan dan Dampaknya:

  • Cali: Beberapa ledakan dan serangan bersenjata dilaporkan terjadi di berbagai lokasi di kota, menyebabkan kerusakan signifikan dan menimbulkan kepanikan di kalangan warga.
  • Villa Rica, Guachinte, Corinto: Serangan serupa juga terjadi di kota-kota ini, menargetkan pos polisi dan fasilitas pemerintah lainnya. Di Corinto, seorang pemilik toko roti bernama Luz Amparo menceritakan bagaimana ledakan menghancurkan tempat usahanya, meninggalkan puing-puing dan kenangan buruk.

Jumlah korban tewas telah dikonfirmasi mencapai tujuh orang, termasuk dua anggota kepolisian. Puluhan lainnya menderita luka-luka akibat ledakan dan tembakan. Dampak dari serangan ini meluas, dengan banyak bangunan hancur dan kendaraan hangus terbakar. Keadaan ini memaksa warga sipil untuk mencari perlindungan dan meninggalkan rumah mereka. Polisi dan analis keamanan meyakini bahwa kelompok pembangkang FARC, khususnya faksi Staf Umum Pusat (EMC), berada di balik serangan ini. Kelompok ini menolak kesepakatan damai dan terus melakukan aksi kekerasan untuk mencapai tujuan mereka.

Elizabeth Dickinson, seorang analis keamanan dari International Crisis Group, menyoroti kemampuan EMC untuk melancarkan serangan terkoordinasi di wilayah metropolitan seperti Cali. Dia menduga bahwa serangan ini merupakan pembalasan terhadap operasi militer pemerintah yang menargetkan pemimpin EMC, Ivan Mordisco. Dengan meningkatkan biaya politik dari inisiatif militer tersebut, mereka berusaha untuk melemahkan pemerintah.

Serangan-serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan politik di Kolombia menjelang pemilu. Beberapa hari sebelumnya, terjadi percobaan pembunuhan terhadap calon presiden dari partai konservatif, Miguel Uribe, di Ibu Kota Bogota. Uribe ditembak dua kali di kepala saat berkampanye, dan seorang remaja laki-laki telah ditangkap sehubungan dengan insiden tersebut. Presiden Kolombia, Gustavo Petro, mencurigai bahwa serangan terhadap Uribe mungkin diperintahkan oleh "mafia internasional" dan mempertanyakan pengurangan jumlah pengawal Uribe pada hari kejadian.

Faksi EMC telah mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan masyarakat untuk menjauh dari instalasi militer dan kantor polisi, tetapi mereka belum mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan tersebut. Situasi di Kolombia tetap tegang dan tidak pasti karena pemerintah berupaya untuk memulihkan ketertiban dan menangkap para pelaku serangan ini.