Kisah Endang Sumitra: Abdi Dalem Istana Bogor yang Mengabdi pada Enam Kepala Negara
Di balik megahnya Istana Bogor, tersembunyi cerita seorang abdi dalem bernama Endang Sumitra. Pria kelahiran Bogor ini, meski tak dikenal luas dalam kancah politik nasional, memiliki pengalaman unik: mengabdi kepada enam presiden Indonesia dari era Soekarno hingga Joko Widodo. Selama puluhan tahun, ia menjadi bagian tak terpisahkan dari Istana, menyaksikan berbagai peristiwa penting dan perubahan kepemimpinan.
Endang memulai pengabdiannya di Istana Bogor pada tahun 1982, mengikuti jejak ayah, kakek, dan buyutnya. Buyutnya pernah menjabat sebagai Mandor Taman Kebun Raya dan Istana pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh-Stachouwer. Ayahnya, seorang sopir pribadi Ibu Fatmawati setelah beliau meninggalkan Istana. Dengan latar belakang keluarga yang kuat di lingkungan Istana, Endang tumbuh menjadi sosok yang berdedikasi dan loyal.
Meski hanya berbekal ijazah SMA, Endang tak pernah berhenti belajar. Ia rajin mengikuti berbagai pelatihan keprotokoleran tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Rumah Tangga Istana dan Departemen Luar Negeri. Kesempatan ini membawanya berinteraksi dengan para pegawai Istana Negara, Istana Merdeka, serta perwakilan dari berbagai departemen dan lembaga negara.
Pada tahun 1992, Endang melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Pakuan atas perintah Kepala Istana Bogor saat itu. Ia mengambil jurusan Hukum Tata Negara dan berhasil meraih gelar sarjana pada tahun 1998, setelah melewati masa kuliah sambil bekerja.
Selama bertugas, Endang memiliki banyak pengalaman berkesan bersama para presiden. Ia selalu diminta untuk berada dekat dengan Presiden Soeharto karena bertugas membawa pengeras suara nirkabel. Dengan Gus Dur, ia bertugas mengatur prosesi pemotongan dan pengolahan daging rusa menjadi sate, memastikan porsi yang disajikan sesuai dengan anjuran dokter. Namun, interaksi yang paling intens ia rasakan adalah dengan Presiden Joko Widodo. Sejak tahun 2015, Jokowi menjadikan Istana Bogor sebagai tempat tinggalnya sehari-hari. Presiden menugaskan Endang untuk menanam berbagai jenis bunga dan pohon rambat agar lingkungan Istana terlihat lebih asri dan menyatu dengan Kebun Raya Bogor.
Endang juga berperan dalam menghadirkan suasana berbeda di Istana. Ia yang mengusulkan agar para pedagang angkringan diundang ke halaman Istana setiap kali Presiden Jokowi menggelar sidang kabinet. Menurut presiden, hidangan angkringan lebih murah dan lebih enak dibandingkan menu katering.
Kisah Endang Sumitra adalah cerminan dari dedikasi dan loyalitas seorang abdi dalem yang telah mengabdikan hidupnya untuk Istana Bogor dan para pemimpin negara. Ia menjadi saksi bisu sejarah dan perubahan zaman, dengan pengabdian yang tulus dan tanpa pamrih.