Pengadaan Laptop Chromebook Era Nadiem Makarim: Upaya Mitigasi Krisis Pendidikan Saat Pandemi

Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, memberikan penjelasan terkait proyek pengadaan laptop Chromebook senilai Rp 9,9 triliun yang menjadi sorotan. Ia menegaskan bahwa program tersebut merupakan respons terhadap krisis pendidikan yang terjadi bersamaan dengan pandemi COVID-19 pada tahun 2020.

Nadiem menjelaskan bahwa pandemi tidak hanya menciptakan krisis kesehatan global, tetapi juga memicu krisis pendidikan yang signifikan. Dalam situasi tersebut, Kemendikbudristek mengambil langkah cepat dan efektif untuk memitigasi dampak learning loss atau hilangnya pembelajaran. Pengadaan perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK), termasuk laptop, menjadi bagian integral dari strategi tersebut untuk memastikan keberlangsungan proses belajar mengajar bagi para siswa.

Lebih lanjut, Nadiem merinci bahwa Kemendikbudristek telah melakukan pengadaan sebanyak 1,1 juta unit laptop, lengkap dengan modem 3G dan proyektor, yang didistribusikan ke lebih dari 77 ribu sekolah dalam kurun waktu empat tahun. Inisiatif ini bertujuan untuk mendukung pembelajaran jarak jauh yang menjadi kebutuhan mendesak selama pandemi.

Selain mendukung pembelajaran siswa, perangkat TIK tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Laptop juga dimanfaatkan dalam pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), sebuah instrumen sensus untuk mengukur capaian pembelajaran dan dampak learning loss.

Nadiem juga menjelaskan alasan di balik pemilihan Chromebook sebagai perangkat utama dalam program ini. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh tim Kemendikbudristek, Chromebook menawarkan keunggulan dari segi harga dibandingkan dengan sistem operasi lainnya. Dengan spesifikasi yang setara, harga Chromebook bisa 10-30% lebih murah. Selain itu, sistem operasi Chrome OS bersifat gratis, sementara sistem operasi lain memerlukan biaya tambahan yang signifikan.

Keunggulan lain dari Chromebook adalah kemampuannya untuk menunjang pembelajaran siswa dengan berbagai fungsi yang relevan. Sistem ini juga memberikan kontrol terhadap aplikasi yang dapat diakses, sehingga melindungi siswa dan guru dari konten negatif seperti pornografi, judi online, dan permainan yang tidak sesuai.

Tim hukum Nadiem Makarim, yang dipimpin oleh Hotman Paris, turut membantah tuduhan korupsi terkait pengadaan laptop Chromebook. Mereka menegaskan bahwa Nadiem tidak melakukan tindakan melawan hukum dalam proses pengambilan keputusan. Bantahan ini terutama menanggapi anggapan bahwa Nadiem telah mengubah kajian yang mendasari pemilihan Chromebook.

Hotman Paris menjelaskan bahwa terdapat dua kajian yang berbeda. Kajian pertama, yang dilakukan sebelum Nadiem menjabat sebagai menteri, difokuskan pada kebutuhan daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Sementara itu, kajian yang menjadi dasar pengadaan Chromebook dilakukan setelah Nadiem menjabat dan mempertimbangkan kebutuhan yang lebih luas selama pandemi.