Perundingan Tarif AS-China Berlanjut: Upaya Meredakan Ketegangan Perdagangan Global
Perundingan intensif antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok mengenai tarif impor memasuki hari kedua, dengan harapan mencapai resolusi yang dapat menenangkan tensi perdagangan yang telah berlangsung lama. Pertemuan ini menjadi krusial mengingat dampak kebijakan tarif terhadap rantai pasokan global dan potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Perwakilan dari kedua negara ekonomi raksasa tersebut berkumpul di Lancaster House, London, Inggris, untuk melanjutkan diskusi yang dimulai pada Senin malam. Perundingan dijadwalkan akan dimulai kembali pada pukul 10 pagi waktu setempat. Kehadiran pejabat tinggi dari kedua belah pihak menunjukkan keseriusan upaya untuk menemukan titik temu.
Delegasi AS dipimpin oleh Menteri Keuangan Scott Bessent, Menteri Perdagangan Howard Lutnick, dan Perwakilan Dagang Jamieson Greer. Sementara itu, delegasi Tiongkok diketuai oleh Wakil Perdana Menteri He Lifeng, didampingi oleh Menteri Perdagangan Wang Wentao dan kepala negosiator perdagangan kementerian, Li Chenggang.
Fokus utama perundingan ini adalah mencari cara untuk meredakan perang dagang yang telah berlangsung selama beberapa waktu. Kebijakan tarif impor yang saling berbalas telah menimbulkan ketidakpastian dalam pasar global, mengganggu rantai pasokan, dan berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Kedua belah pihak menyadari pentingnya mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan untuk stabilitas ekonomi global.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa negosiasi dengan Tiongkok berjalan dengan baik. Dia juga menegaskan bahwa hubungan antara kedua negara tetap positif. "Kami baik-baik saja dengan Tiongkok. Tiongkok tidak mudah," ujar Trump, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai substansi perundingan.
Selain isu tarif, perundingan ini juga menyentuh topik ekspor tanah jarang dari Tiongkok ke AS. AS sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran mengenai lambatnya realisasi komitmen Tiongkok terkait ekspor tanah jarang setelah penandatanganan Kesepakatan Jenewa. Tanah jarang merupakan material penting untuk berbagai industri teknologi tinggi, dan akses yang stabil terhadap sumber daya ini sangat penting bagi AS.
Penasihat ekonomi AS, Kevin Hassett, mengungkapkan bahwa tim negosiasi AS berharap untuk mendapatkan komitmen yang kuat dari Tiongkok terkait isu tanah jarang. AS menginginkan pelonggaran kontrol ekspor dan peningkatan volume ekspor logam tanah jarang dari Tiongkok.
"Tujuan pertemuan hari ini adalah untuk memastikan bahwa mereka serius, intinya kami benar-benar mendapatkan jabat tangan dari mereka," kata Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS.
Berikut adalah beberapa poin yang menjadi perhatian utama dalam perundingan:
- Tarif Impor: Mencari kesepakatan untuk mengurangi atau menghapus tarif impor yang saling dikenakan oleh kedua negara.
- Rantai Pasokan: Mengurangi gangguan pada rantai pasokan global yang disebabkan oleh perang dagang.
- Pertumbuhan Ekonomi: Memastikan stabilitas ekonomi global dan mencegah perlambatan pertumbuhan.
- Ekspor Tanah Jarang: Memastikan akses yang stabil dan terjamin terhadap tanah jarang dari Tiongkok ke AS.
- Komitmen Tiongkok: Mendapatkan komitmen yang jelas dan terukur dari Tiongkok terkait isu-isu perdagangan.
Perkembangan lebih lanjut dari perundingan ini akan terus dipantau dengan seksama, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap ekonomi global.