Inisiatif Gencatan Senjata di Jeddah: Ukraina dan AS Cari Jalan Keluar dari Krisis
Inisiatif Gencatan Senjata di Jeddah: Ukraina dan AS Cari Jalan Keluar dari Krisis
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tiba di Jeddah, Arab Saudi, pada Senin, 10 Maret 2025, untuk melakukan pembicaraan krusial dengan perwakilan Amerika Serikat (AS) terkait kemungkinan gencatan senjata dalam konflik berkelanjutan dengan Rusia. Kunjungan ini menandai babak baru dalam upaya diplomasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak Februari 2022. Pertemuan penting yang dijadwalkan pada Selasa, 11 Maret 2025, ini menjadi momentum penting pasca ketegangan antara Ukraina dan AS beberapa waktu lalu, ditandai dengan terhentinya bantuan militer AS kepada Ukraina.
Ketegangan tersebut muncul setelah Presiden Zelensky meninggalkan pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump tanpa mencapai kesepakatan terkait sumber daya mineral. Akibatnya, AS menangguhkan bantuan militer, termasuk akses ke intelijen dan citra satelit, sebagai langkah yang bertujuan untuk mendorong Kyiv kembali ke meja perundingan dengan Moskow. Namun, usulan gencatan senjata yang diajukan oleh pihak Ukraina, yang difokuskan pada wilayah udara dan laut, menawarkan secercah harapan. Seorang pejabat Ukraina yang tidak disebutkan namanya kepada AFP menyatakan bahwa opsi ini lebih mudah diterapkan dan dipantau, sehingga dapat menjadi batu loncatan menuju penghentian konflik secara menyeluruh. Senator AS Marco Rubio, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, menilai gagasan tersebut menjanjikan, meskipun menekankan perlunya kompromi dari kedua belah pihak untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan.
Rubio juga menyatakan harapannya agar penangguhan bantuan militer AS dapat segera berakhir. Pertemuan di Jeddah, diharapkan akan menjadi kunci dalam menentukan masa depan bantuan tersebut. Sebelum diskusi dengan delegasi AS, Presiden Zelensky dijadwalkan bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Laporan dari Financial Times mengindikasikan bahwa tawaran gencatan senjata sebagian dari Kyiv bertujuan untuk meyakinkan Washington agar kembali memberikan bantuan militer dan berbagi informasi intelijen. Langkah diplomasi ini juga mendapat dukungan dari Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang menghubungi Presiden Trump untuk menyampaikan harapannya agar perundingan di Jeddah dapat membuka jalan bagi dimulainya kembali bantuan militer AS kepada Ukraina.
Dalam pernyataan di media sosial sebelum keberangkatannya ke Jeddah, Presiden Zelensky menegaskan kembali komitmen Ukraina terhadap perdamaian, seraya menyalahkan Rusia sebagai penyebab berlanjutnya konflik. Delegasi Ukraina yang hadir dalam pertemuan ini terdiri dari Menteri Luar Negeri Andriy Sybiha, Menteri Pertahanan Rustem Umerov, Kepala Staf Zelensky, Andriy Yermak; dan Pavlo Palisa, komandan militer sekaligus wakil Yermak. Sementara itu, pihak AS diwakili oleh Senator Rubio dan penasihat keamanan nasional Trump, Mike Waltz. Utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, menjelaskan bahwa Washington berharap dapat memanfaatkan perundingan ini untuk merumuskan kerangka kerja bagi perjanjian damai dan gencatan senjata awal. Pertemuan di Jeddah ini diharapkan akan menghasilkan titik temu yang dapat menghentikan konflik dan membuka jalan bagi perdamaian yang langgeng di Ukraina.
Delegasi Ukraina:
- Menteri Luar Negeri Andriy Sybiha
- Menteri Pertahanan Rustem Umerov
- Kepala Staf Zelensky, Andriy Yermak
- Pavlo Palisa, Komandan Militer dan Wakil Yermak
Delegasi AS:
- Senator Marco Rubio
- Penasihat Keamanan Nasional Trump, Mike Waltz
- Utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff