Nestapa Idul Adha di Gaza: Ketika Sebungkus Tepung Lebih Berharga dari Daging Kurban

Kondisi Jalur Gaza saat ini sangat memilukan. Perayaan Idul Adha yang seharusnya penuh sukacita berubah menjadi momen yang sarat dengan kepedihan dan kekurangan. Lebih dari 20 bulan konflik yang berkecamuk sejak Oktober 2023 telah meninggalkan luka mendalam bagi warga Gaza, menghancurkan harapan dan mengubah tradisi yang telah lama dipegang.

Dahulu, Idul Adha di Gaza adalah waktu di mana keluarga besar berkumpul, menyembelih hewan kurban, berbagi daging, dan menikmati hidangan lezat bersama. Pasar-pasar dipenuhi dengan warga yang berbelanja kue kering, permen, dan pakaian baru untuk anak-anak. Namun, kini semua itu hanyalah kenangan pahit. Blokade bantuan kemanusiaan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan telah memperburuk kondisi kehidupan warga Gaza, membatasi akses mereka terhadap kebutuhan pokok.

Tradisi penyembelihan hewan kurban, yang merupakan inti dari perayaan Idul Adha, hampir tidak mungkin terwujud. Ahmed Al Zayigh, seorang tukang daging di Kota Gaza, mengungkapkan bahwa biasanya ia menerima ratusan pesanan hewan kurban, termasuk sapi dan domba. Namun, tahun ini, ia bahkan tidak menerima satu pun pesanan. Daging telah menjadi barang mewah yang tak terjangkau bagi sebagian besar warga Gaza. Mohammed Othman, seorang pengungsi yang tinggal di Deir Al Balah, mengatakan bahwa mendapatkan roti saja sudah merupakan anugerah yang besar. Ia berharap dapat menemukan roti untuk memberi makan anak-anaknya di hari Idul Adha, dan mereka akan merasa bahagia seolah-olah mendapatkan daging.

Bagi banyak anak di Gaza, Idul Adha tahun ini terasa semakin sunyi dan menyakitkan. Imad Dib, seorang anak berusia 11 tahun, kehilangan kedua orang tuanya akibat serangan udara Israel. Ini adalah Idul Adha pertamanya tanpa kehadiran mereka. Ia mengenang bagaimana ayahnya selalu membelikan mereka seekor domba setiap tahun. Namun, kini ia hanya tinggal di tenda pengungsian dengan mengenakan sepatu tambalan. Baginya dan keluarganya, Idul Adha tahun ini hanya tentang bagaimana bisa mendapatkan makanan untuk bertahan hidup.

Di tengah kesulitan yang mendera, sebagian warga Gaza berusaha untuk tetap menjaga semangat Idul Adha. Di kamp pengungsian Al Mawasi, Hamza Sobeh mengajak anak-anaknya bertakbir untuk menumbuhkan semangat dan harapan, meskipun dalam keterbatasan. Ia berharap dapat membelikan mereka kue isi kurma jika ada kesempatan. Namun, bagi banyak keluarga, perayaan bukan lagi menjadi prioritas utama. Luka batin dan kehilangan telah merenggut kebahagiaan mereka. Sami Felfel, seorang warga Gaza utara, menggambarkan Idul Adha kali ini sebagai "darah". Ia menambahkan bahwa tahun-tahun ini adalah masa-masa tersulit yang pernah mereka jalani di Gaza.

Kisah-kisah pilu dari Gaza ini menjadi pengingat akan penderitaan yang dialami oleh warga sipil akibat konflik yang berkepanjangan. Idul Adha, yang seharusnya menjadi momen sukacita dan kebersamaan, kini menjadi simbol dari kehilangan, kekurangan, dan harapan yang meredup.