PLTU Labuhan Angin Sulap Limbah Uang Kertas Jadi Sumber Energi Listrik
PLTU Labuhan Angin di Sumatera Utara mengambil langkah inovatif dengan memanfaatkan limbah uang kertas yang rusak sebagai sumber energi untuk pembangkitan listrik. Inisiatif ini dijalankan oleh PT PLN Indonesia Power (PLN IP) Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Labuhan Angin melalui program cofiring berbasis biomassa, yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan batu bara dan mendukung energi berkelanjutan.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Edwin Nugraha Putra, menyatakan bahwa pemanfaatan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK) ini adalah hasil kerjasama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sibolga. LRUK digunakan sebagai campuran bahan bakar utama dalam proses pembangkitan listrik. Hal ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada batu bara, tetapi juga memberikan nilai tambah pada limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
PLTU Labuhan Angin, dengan kapasitas terpasang 2x115 megawatt (MW), dikenal dengan tingkat keandalan dan efisiensi yang tinggi. Pembangkit ini dilengkapi dengan teknologi electrostatic precipitator (ESP) dan continuous emission monitoring system (CEMS) untuk memastikan bahwa emisi gas buang selalu berada di bawah ambang batas yang ditetapkan. Dengan memanfaatkan LRUK, PLTU Labuhan Angin berkontribusi pada konsep waste to energy dan mendukung target net zero emission (NZE) pada tahun 2060.
Proses pemanfaatan LRUK dilakukan dengan menghancurkan uang kertas yang ditarik dari peredaran menjadi potongan-potongan kecil yang tidak dapat dikenali lagi sebagai mata uang rupiah. Proses ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Inisiatif di PLTU Labuhan Angin ini merupakan kelanjutan dari upaya serupa yang telah berhasil dilakukan di PLTU Jateng 2 Adipala, PLTU Bengkayang, dan PLTU Asam-Asam. Bahkan, program di Adipala berhasil mencetak rekor MURI sebagai pemanfaatan limbah uang terbesar untuk pembangkitan listrik.
Manajer UBP Labuhan Angin, Berlison Haloho, menekankan bahwa program ini adalah bukti nyata bahwa tantangan lingkungan dapat diatasi melalui kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, transisi energi tidak hanya bergantung pada teknologi canggih, tetapi juga membutuhkan kerjasama, kreativitas, dan kesadaran lingkungan untuk menciptakan masa depan energi yang berkelanjutan.