Donnarumma Hindari Bahas Final Liga Champions dengan Pemain Inter di Timnas Italia

Kiper utama tim nasional Italia, Gianluigi Donnarumma, menunjukkan sikap profesional dan empatinya dengan menghindari pembicaraan mengenai kemenangan Paris Saint-Germain (PSG) atas Inter Milan di final Liga Champions. Sikap ini diambil demi menjaga perasaan rekan-rekan setimnya di timnas yang berasal dari klub Inter Milan.

Setelah pertandingan final yang berlangsung di Allianz Arena, Munich, yang berakhir dengan skor telak 5-0 untuk kemenangan PSG, Donnarumma langsung bergabung dengan skuad Gli Azzurri untuk menghadapi Kualifikasi Piala Dunia 2026. Kehadirannya di timnas mempertemukannya dengan sejumlah pemain Inter Milan yang baru saja mengalami kekalahan pahit.

Menyadari sensitivitas situasi tersebut, Donnarumma memilih untuk tidak membahas jalannya pertandingan final, apalagi merayakan kemenangan secara berlebihan di hadapan para pemain Inter. Ia lebih memilih fokus pada persiapan timnas Italia menghadapi pertandingan penting melawan Norwegia dan Moldova. Kiper yang pernah membela AC Milan ini menegaskan bahwa prioritas utamanya adalah menjaga kekompakan tim dan meraih hasil maksimal di kualifikasi Piala Dunia.

"Saya tidak mengatakan apa-apa mengenai final. Kami hanya berpelukan hangat setelah bertemu, dan saya sangat senang dengan itu," ujar Donnarumma, seperti dikutip dari Football Italia. "Sejujurnya, saya tidak bisa sepenuhnya menikmati kemenangan Liga Champions karena di sisi lain, ada saudara-saudara yang juga berjuang bersama saya. Ada pelukan yang indah dari mereka di akhir pertandingan. Sesuatu yang sangat spesial, yang berarti besar. Kami belum membicarakan laga itu di sini, bahkan tidak bercanda soal itu sedikit pun."

Donnarumma menambahkan bahwa seluruh anggota timnas Italia saat ini hanya fokus pada pertandingan kualifikasi yang akan datang. Ia berharap timnya dapat menunjukkan performa terbaik dan meraih kemenangan demi mengamankan tempat di Piala Dunia 2026.

Sikap Donnarumma ini mencerminkan kedewasaan dan profesionalismenya sebagai seorang pemain. Ia mampu menempatkan kepentingan timnas di atas euforia pribadi, serta menunjukkan rasa hormat dan empati kepada rekan-rekan setimnya yang sedang mengalami kekecewaan.