Polemik Area Kemping Gunung Merbabu: Open Trip Dituding Lakukan Penguasaan Lahan, Bantahan Mengemuka
Heboh Dugaan Penguasaan Lahan Kemping di Gunung Merbabu, Operator Open Trip Angkat Bicara
Gelombang perdebatan melanda jagat maya terkait isu penguasaan area berkemah di jalur pendakian Gunung Merbabu. Sorotan tajam tertuju pada penyelenggara open trip yang dituding melakukan 'kapling lahan' secara eksklusif. Salah satu operator, Tiga Dewa Adventure Indonesia, turut terseret dalam pusaran kontroversi ini.
Keberadaan spanduk merah bertuliskan 'Selamat Datang di Camp Area Tiga Dewa Adventure' memicu tanda tanya besar di kalangan pendaki. Pertanyaan yang mencuat adalah, mungkinkah kawasan publik seperti gunung dikelola secara eksklusif oleh satu pihak, apalagi sampai diberi penanda visual yang mencolok?
Bantahan Tegas dari Pihak Open Trip
Menanggapi tudingan tersebut, Muhammad Rifqi Maulana, pemilik Tiga Dewa Adventure Indonesia, dengan tegas membantah adanya praktik pengkaplingan lahan. Ia menjelaskan bahwa pihaknya selalu berkoordinasi dengan kru lokal untuk memberikan pelayanan terbaik bagi peserta open trip tanpa merugikan pendaki lain.
"Kami dari tim Tiga Dewa tidak pernah melakukan booking area camp," ujarnya. Rifqi menambahkan, tenda dan perlengkapan peserta biasanya diangkut lebih dulu oleh porter atau tim lokal. Penataan tenda diatur sedemikian rupa agar tidak memakan seluruh area camping dan tetap memberikan ruang bagi pendaki lain.
"Permasalahan ini muncul dari konten yang menyebut adanya booking area lahan camp. Kami selalu menjadi sorotan karena memang paling ramai dan area camp-nya kami set up agar tidak memenuhi area camp," jelasnya.
Rifqi juga mengklaim bahwa timnya seringkali membantu pendaki lain yang membutuhkan bantuan, seperti mendirikan tenda atau memberikan petunjuk arah.
Penjelasan Lebih Lanjut Mengenai Penataan Tenda
Menurut Rifqi, tenda yang digunakan berkapasitas empat orang dan diisi sesuai kapasitasnya. Penataan tenda disesuaikan dengan kondisi lokasi. Jika memungkinkan, tenda akan ditata sejajar agar tidak terpencar.
"Kami tidak pernah melakukan blocking atau monopoli lahan camp. Siapa yang datang duluan, silakan menggunakan area camp," tegasnya.
Ia juga membantah tudingan bahwa tenda-tenda tersebut dibiarkan berdiri berhari-hari di lokasi. Tenda akan segera diturunkan setelah digunakan untuk dicuci.
Setiap open trip pendakian biasanya diikuti minimal 17 orang, namun jumlah peserta disesuaikan dengan kuota pendakian yang tersedia. Rifqi menegaskan bahwa pihaknya selalu mematuhi aturan yang ditetapkan oleh Taman Nasional dan pengelola gunung lainnya.
"Kami mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan di hati para pendaki. Kami membuka diri terhadap kritik dan saran," ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa jika ada oknum dari tim Tiga Dewa yang terbukti melakukan pengusiran terhadap pendaki lain, akan diambil tindakan tegas.
Tanggapan Taman Nasional Gunung Merbabu
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), Anggit Haryoso, menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan penelusuran terkait video viral tersebut. Pihaknya telah bersurat kepada penyelenggara open trip untuk meminta klarifikasi.
Anggit menegaskan bahwa tidak ada istilah pengkaplingan area berkemah. Semua pendaki memiliki hak yang sama setelah melakukan pendaftaran secara legal melalui booking online di Taman Nasional. Ia mengimbau agar pendaki bijak dalam berbagi ruang di area berkemah.
"Tidak ada pengkaplingan area berkemah oleh siapapun, baik itu mandiri maupun penyelenggara open trip," tegasnya.
Berdasarkan analisis video di media sosial, lokasi berkemah yang disebut dikapling diduga berada di Sabana I Gunung Merbabu. Namun, pihaknya belum dapat memastikan jalur pendakian yang digunakan.
Isu pengkaplingan area berkemah ini juga telah menjadi perhatian Kementerian Kehutanan, karena tidak hanya terjadi di Merbabu, tetapi juga di gunung-gunung lainnya.
"Dari pengelola Taman Nasional, tidak pernah ada aturan yang berkaitan dengan pengkaplingan area berkemah. Kami mengimbau kepada para pendaki, baik mandiri maupun open trip, apabila melihat kejadian serupa, diharapkan dapat menyampaikan informasi kepada Taman Nasional melalui call center atau petugas terdekat di pintu pendakian. Kami akan telusuri," pungkas Anggit.