Trump Tepis Tudingan Serang Harvard Akibat Penolakan di Masa Lalu
Donald Trump, mantan Presiden Amerika Serikat, dengan tegas membantah klaim bahwa serangannya terhadap Universitas Harvard didorong oleh dendam pribadi karena pernah ditolak oleh institusi pendidikan tinggi tersebut. Bantahan ini muncul sebagai respons terhadap tudingan yang dilontarkan oleh jurnalis Michael Wolff.
Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan melalui platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mendaftar ke Harvard. "Michael Wolff, seorang reporter kelas tiga yang bahkan ditertawakan oleh media berita palsu, baru-baru ini mengklaim bahwa satu-satunya alasan saya 'menyerang' Harvard adalah karena saya mendaftar di sana dan tidak diterima," tulis Trump, seperti dikutip dari New York Post. "Cerita itu sepenuhnya salah. Saya tidak pernah mendaftar ke Harvard."
Trump menekankan bahwa dirinya adalah lulusan Wharton School of Finance di University of Pennsylvania. Perseteruan antara Trump dan Wolff semakin memanas setelah Wolff, dalam sebuah episode "The Daily Beast Podcast", mengklaim bahwa Trump menyimpan dendam terhadap Harvard akibat penolakan di masa lalu. "Dia butuh musuh," ujar Wolff, yang dikenal sebagai penulis buku "Fire & Fury" yang mengupas pemerintahan Trump di awal masa jabatannya.
Trump balik menuduh Wolff menggunakan dirinya untuk meningkatkan penjualan buku yang merosot. "Dia kesal karena bukunya tentang saya benar-benar 'bom'. Tidak ada yang menginginkannya karena 'laporan' dan reputasinya sangat buruk!" tulis Trump. Sebelumnya, Melania Trump juga membantah spekulasi bahwa putranya, Barron Trump, pernah mendaftar dan ditolak oleh Harvard. "Barron tidak mendaftar ke Harvard, dan pernyataan apa pun bahwa dia, atau siapa pun atas namanya, mendaftar sama sekali tidak benar," kata juru bicara Melania. Status penerimaan mahasiswa Barron, yang berusia 19 tahun, menjadi topik perbincangan di media sosial di tengah kritik tajam ayahnya terhadap Harvard. Barron sendiri baru saja menyelesaikan tahun pertamanya di New York University.
Klaim Wolff tersebut menambah daftar panjang kontroversi yang melibatkan Trump dan Harvard. Sejak meninggalkan Gedung Putih, Trump kerap melontarkan kritik terhadap universitas tersebut, terutama terkait kebijakan penerimaan mahasiswa dan pandangan politik yang berkembang di kalangan akademisi. Namun, tudingan bahwa serangan ini didorong oleh dendam pribadi karena penolakan di masa lalu menjadi babak baru dalam perseteruan ini.