Di Tengah Persaingan, Semangat Pencari Kerja Senior di Bursa Kerja Jakarta Barat Tak Surut

GOR Tanjung Duren, Jakarta Barat, menjadi saksi bisu perjuangan ratusan pencari kerja dari berbagai usia dalam sebuah bursa kerja yang digelar pada Selasa (3/6/2025). Di antara kerumunan pencari kerja, terlihat sejumlah individu yang usianya tak lagi muda, namun semangat mereka untuk mendapatkan pekerjaan tak kalah membara dibandingkan para pencari kerja yang lebih muda.

Dengan pakaian rapi dan map berisi lamaran kerja di tangan, mereka dengan tekun mendatangi stan-stan perusahaan yang membuka lowongan. Meskipun terlihat sedikit gugup, harapan terpancar jelas dari wajah mereka saat menyerahkan berkas lamaran. Mereka menyadari persaingan ketat dengan para pelamar yang lebih muda, tetapi hal itu tidak menyurutkan tekad mereka untuk mendapatkan pekerjaan.

Mada, seorang warga Cengkareng berusia 42 tahun, adalah salah satu dari sekian banyak pencari kerja senior yang hadir di bursa kerja tersebut. Ia mengaku telah mengirimkan lebih dari seratus lamaran kerja secara daring setiap minggunya, namun belum membuahkan hasil. Bursa kerja ini menjadi harapan baru baginya untuk bisa bertemu langsung dengan perwakilan perusahaan dan menunjukkan kemampuannya.

"Kalau tidak dicoba, kita tidak tahu hasilnya," ujarnya dengan nada optimis. Ia mengapresiasi upaya pemerintah dalam menyelenggarakan bursa kerja ini sebagai bentuk perhatian terhadap tingginya angka pengangguran.

Mada menceritakan bahwa ia terakhir kali bekerja pada tahun 2019. Ia terpaksa berhenti bekerja untuk merawat ibunya yang menderita stroke. Meskipun menyadari bahwa usianya seringkali menjadi penghalang, ia tetap yakin bahwa pengalaman dan dedikasinya dapat menjadi nilai tambah bagi perusahaan yang mau menerimanya.

Kisah serupa juga dialami oleh Elanda, seorang mantan teknisi ATM berusia 40 tahun. Ia kehilangan pekerjaannya sejak Agustus 2024 karena kontraknya tidak diperpanjang. Sejak saat itu, ia aktif mengikuti berbagai bursa kerja, namun lowongan yang sesuai dengan kualifikasinya sangat terbatas.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Elanda bekerja sebagai pengemudi ojek online. Penghasilan yang ia dapatkan tidak seberapa, namun cukup untuk menutupi kebutuhan dasar keluarganya.

"Kalau sudah di usia saya, susah mencari kerja," keluhnya. Namun, ia tidak menyerah. Ia melihat bursa kerja sebagai kesempatan untuk bertemu langsung dengan perwakilan perusahaan, menjelaskan keahliannya secara detail, dan memperluas jaringan profesionalnya.

"Saya tahu tantangan usia saya, tapi saya punya pengalaman kerja dan loyalitas. Saya harap perusahaan mau melihat sisi itu juga," harapnya.

Elanda berharap agar pemerintah tidak hanya menggelar bursa kerja sebagai formalitas belaka. Ia berharap ada tindak lanjut yang jelas bagi para pencari kerja, sehingga mereka tidak merasa hanya diberi harapan palsu.

Senada dengan Elanda, Mada juga berharap pemerintah dapat memperbaiki sistem penataan lapangan kerja dan memberantas korupsi agar dana negara dapat dialokasikan lebih banyak untuk program-program pengentasan pengangguran.

"Berharap ada perusahaan yang memberikan perlindungan kerja yang jelas, bukan sekadar kontrak template dan gaji kecil," pungkasnya.

Menanggapi berbagai kritikan yang menyebut bursa kerja hanya sebagai ajang formalitas, Wakil Wali Kota Jakarta Barat, Yuli Hartono, membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa semua perusahaan yang hadir di bursa kerja benar-benar membuka peluang kerja.

"Tidak, tidak benar. Semua perusahaan yang hadir memang membuka peluang kerja. Jangan patah semangat," tegasnya.

Yuli menjelaskan bahwa bursa kerja ini tidak hanya bertujuan untuk menurunkan angka pengangguran, tetapi juga untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan ketenagakerjaan.

"Kami akan terus mendorong perusahaan memberikan kesempatan sesuai kompetensi pencari kerja. Ini upaya serius, bukan sekadar menggugurkan kewajiban," tambahnya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di Jakarta Barat pada tahun 2024 berada di angka 6,18 persen, menurun dari 6,39 persen pada tahun 2023. Pemerintah berharap tren positif ini dapat terus berlanjut melalui program pelatihan dan fasilitasi rekrutmen langsung.

"Job fair ini salah satu cara kami memperpendek jarak antara pencari kerja dan pemberi kerja," pungkas Yuli.

Kepala Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Sudin Nakertransgi) Jakarta Barat, Jackson Dianrus Sitorus, menambahkan bahwa bursa kerja kali ini diikuti oleh puluhan perusahaan dari berbagai sektor.

"Job Fair Jakarta Barat menghadirkan 41 perusahaan swasta, tiga instansi pemerintah, dan enam pelaku UMKM binaan Jakpreneur, dengan total 3.504 lowongan kerja," jelas Jackson.