Pembatasan Kantong Plastik Dongkrak UMKM Bambu di Banyuwangi

Kebijakan Pembatasan Plastik Pacu Geliat UMKM Bambu Banyuwangi

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam membatasi penggunaan kantong plastik sekali pakai, yang digagas oleh Bupati Ipuk Fiestiandani, telah membawa angin segar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kerajinan bambu. Salah satu wilayah yang merasakan dampak positifnya adalah Lingkungan Papring, yang terletak di Desa/Kecamatan Kalipuro. Kawasan ini, yang dulunya merupakan sentra kerajinan bambu yang lesu, kini kembali menunjukkan geliat aktivitas ekonomi.

Widie Nurmahmudy, tokoh masyarakat Lingkungan Papring, mengungkapkan bahwa kebijakan pembatasan kantong plastik telah menghidupkan kembali produk kerajinan bambu di wilayahnya. Permintaan terhadap produk-produk anyaman bambu, terutama besek, mengalami peningkatan yang signifikan. Besek kini menjadi alternatif pengganti kantong plastik yang ramah lingkungan.

Peningkatan Permintaan Jelang Idul Adha

Menjelang Hari Raya Idul Adha, permintaan terhadap besek semakin meningkat. Masyarakat banyak menggunakan besek sebagai wadah daging kurban. Menurut Widie, menjelang Idul Adha, perajin di Lingkungan Papring mampu memproduksi antara 5.000 hingga 7.000 besek dalam sebulan. Kenaikan permintaan ini juga berdampak pada harga besek. Jika sebelumnya harga besek seragam tanpa memandang ukuran, kini harga besek bervariasi, mulai dari Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per buah, tergantung pada ukurannya.

Mairoh, seorang perajin besek di Lingkungan Papring, membenarkan tingginya permintaan pasar selama sebulan terakhir. Ia mengaku mampu membuat puluhan besek setiap harinya dan tidak kesulitan menjualnya. Tingginya permintaan besek ini sangat membantu perekonomiannya, terutama dengan harga yang lebih tinggi untuk besek ukuran besar.

Kebangkitan Sentra Kerajinan Bambu Papring

Lingkungan Papring memang dikenal sebagai sentra kerajinan bambu di Banyuwangi. Nama "Papring" sendiri merupakan akronim dari "panggonane pring" yang berarti tempatnya pohon bambu. Pada era 1960-an hingga 1990-an, sebagian besar warga Papring berprofesi sebagai perajin bambu. Namun, sejak tahun 2000-an, industri ini mengalami kemunduran akibat berkurangnya permintaan pasar dan masuknya produk plastik. Akibatnya, jumlah perajin bambu berkurang drastis.

Namun, kebijakan pengurangan kantong plastik dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan produk ramah lingkungan dalam beberapa tahun terakhir telah menghidupkan kembali minat terhadap kerajinan bambu. Banyak warga Papring yang kembali menekuni profesi sebagai perajin bambu, membuat berbagai produk seperti besek dan gedek (dinding anyaman bambu).

Saat ini, hampir seluruh warga Papring atau sekitar 80 keluarga kembali membuat produk berbahan bambu. Mereka juga terus berinovasi dengan menciptakan berbagai jenis produk kerajinan bambu lainnya. Saat ini, terdapat sekitar 20 jenis kerajinan bambu yang dihasilkan di Lingkungan Papring. Selain besek, warga juga membuat tas dari bambu, dinding bambu (gedek), capil (topi petani), dan berbagai produk bambu lainnya.

Berikut adalah beberapa produk yang dibuat oleh warga Papring:

  • Besek
  • Tas Bambu
  • Gedek (Dinding Bambu)
  • Capil (Topi Petani)
  • Berbagai jenis kerajinan bambu lainnya