Kekecewaan Warga Atas Pembatalan Diskon Listrik: Berharap Banyak, Akhirnya Gigit Jari
Pembatalan rencana diskon tarif listrik oleh pemerintah untuk periode Juni dan Juli 2025 menuai kekecewaan dari sejumlah warga. Kebijakan yang sebelumnya sempat digaungkan sebagai angin segar, kini justru membuat sebagian masyarakat merasa kecewa dan seolah diberikan harapan palsu.
Kekecewaan ini salah satunya diungkapkan oleh Farid, seorang warga Jagakarsa, Jakarta Selatan. Ia mengaku sangat berharap dengan adanya diskon listrik tersebut, mengingat tagihan listrik di rumahnya cukup tinggi. "Kemarin dengar ada wacana diskon, itu berharap banget. Eh malah di-PHP-in pemerintah," ujarnya.
Farid menambahkan, program diskon listrik yang sempat berlaku pada awal tahun 2025 sangat membantu meringankan beban pengeluarannya. Dengan adanya diskon tersebut, ia bisa menghemat ratusan ribu rupiah setiap bulannya.
Senada dengan Farid, Jessica, warga Tugu, Depok, juga merasakan kekecewaan yang sama. Ia mengaku telah menantikan kebijakan diskon listrik ini sejak beberapa bulan terakhir. Sebagai pelanggan rumah tangga dengan daya 1.300 VA, Jessica merasa sangat terbantu dengan adanya diskon tersebut.
"Disayangkan banget keputusan pemerintah. Padahal saya sudah nungguin dari Februari pas terakhir dapat diskon. Soalnya sangat membantu, beban berkurang," ungkap Jessica. Ia menambahkan, dengan adanya diskon listrik, ia bisa mengalokasikan dana yang seharusnya untuk membayar tagihan listrik ke kebutuhan lainnya.
Kekecewaan warga ini muncul setelah pemerintah mengumumkan pembatalan diskon listrik sebagai bagian dari stimulus ekonomi. Padahal, sebelumnya diskon listrik ini sempat disebut-sebut sebagai salah satu dari enam stimulus yang akan diluncurkan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan bahwa proses penganggaran untuk diskon listrik berjalan lebih lambat dibandingkan program stimulus lainnya. Sebagai gantinya, pemerintah memutuskan untuk memberikan Bantuan Subsidi Upah (BSU) kepada jutaan pekerja dengan penghasilan di bawah Rp 3,5 juta.
Berikut adalah poin-poin kekecewaan warga:
- Merasa diberi harapan palsu oleh pemerintah.
- Diskon listrik sebelumnya sangat membantu meringankan beban pengeluaran.
- Tagihan listrik bulanan cukup tinggi.
- Menantikan kebijakan diskon listrik sejak lama.
- Dana yang seharusnya untuk membayar listrik bisa dialokasikan ke kebutuhan lain.
Meski demikian, pemerintah berharap BSU dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian dan membantu masyarakat yang membutuhkan. Namun, bagi sebagian warga, pembatalan diskon listrik tetap menjadi kekecewaan tersendiri.