Ribuan Warga di Polewali Mandar Terjebak Isolasi Akibat Jembatan Hanyut, Pemerintah Daerah Lambat Tangani

Bencana banjir bandang telah memutus akses vital bagi ribuan warga di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Jembatan Tapua', yang menghubungkan empat dusun, hanyut terbawa arus deras Sungai Masunni, meninggalkan lebih dari seribu jiwa dalam kondisi terisolasi selama lebih dari sepekan.

Empat dusun yang terdampak parah adalah Pussendana, Pamombong, Tapua', dan Sepang. Warga di wilayah ini kini menghadapi kesulitan besar dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Akses untuk menjual hasil pertanian, mendapatkan kebutuhan pokok, dan berinteraksi dengan dunia luar terputus total.

Meskipun kondisi darurat telah berlangsung cukup lama, respons dari pemerintah daerah dinilai lambat dan belum memadai. Warga terpaksa mengambil inisiatif sendiri dengan memanfaatkan rakit bambu untuk menyeberangi sungai yang lebarnya mencapai 35 meter. Tindakan ini sangat berisiko mengingat derasnya arus sungai, terutama saat curah hujan tinggi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Polewali Mandar, Muhammad Faisal Katohidar, mengakui bahwa pihaknya baru akan melakukan asesmen terhadap kerusakan jembatan. Ia juga menyatakan telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Dinas Sosial untuk penanganan lebih lanjut.

Keterlambatan penanganan ini memicu kekecewaan di kalangan warga. Mereka mendesak pemerintah segera mengambil tindakan konkret, baik dengan membangun jembatan pengganti yang permanen maupun membuka akses jalan alternatif. Warga khawatir, jika kondisi ini berlarut-larut, dampaknya akan semakin meluas, tidak hanya pada aspek sosial, tetapi juga pada perekonomian yang bergantung pada kelancaran transportasi.

Jembatan Tapua' yang dibangun pada tahun 1996 diketahui belum pernah mengalami perbaikan signifikan. Kondisi ini diduga menjadi salah satu faktor penyebab jembatan tersebut tidak mampu menahan terjangan banjir bandang yang melanda wilayah tersebut. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pemeliharaan infrastruktur secara berkala, terutama di daerah-daerah rawan bencana.

Dampak yang Dirasakan Warga:

  • Kesulitan Akses: Warga kesulitan keluar masuk desa untuk berbagai keperluan.
  • Terhambatnya Ekonomi: Penjualan hasil pertanian dan pembelian kebutuhan pokok terganggu.
  • Keresahan Sosial: Aktivitas sosial dan interaksi antar warga menjadi terbatas.
  • Ancaman Keselamatan: Penggunaan rakit bambu sebagai alat transportasi sangat berisiko.

Tindakan yang Diharapkan dari Pemerintah:

  • Pembangunan Jembatan Pengganti: Membangun jembatan permanen secepat mungkin.
  • Pembukaan Akses Alternatif: Mencari dan membuka jalan alternatif sementara.
  • Bantuan Logistik: Memastikan ketersediaan dan penyaluran bantuan logistik yang memadai.
  • Perbaikan Infrastruktur: Meningkatkan pemeliharaan infrastruktur secara berkala.

Kejadian ini menjadi sorotan dan membuka mata semua pihak tentang pentingnya kesiapsiagaan dan respons cepat dalam menghadapi bencana. Diharapkan pemerintah daerah segera mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi krisis ini dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.