Mahasiswa Malaysia Keluhkan Harga Nasi Campur yang Melambung, Diduga Mencapai Rp 68 Ribu

Mahasiswa UPSI Protes Harga Nasi Campur yang Tidak Wajar

Seorang mahasiswa Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, baru-baru ini melayangkan protes terkait harga nasi campur yang dianggap tidak wajar. Keluhannya viral setelah ia merasa ditagih terlalu mahal, yakni mencapai RM 18 atau sekitar Rp 68 ribu untuk seporsi nasi dengan lauk daging dan dua jenis sayuran.

Kejadian ini bermula ketika Hu, nama mahasiswa tersebut, mengunjungi sebuah gerai nasi campur di Tanjung Malim. Sebelumnya, ia sudah beberapa kali makan di tempat itu dan meskipun harganya relatif lebih tinggi dari tempat lain, ia masih bisa mentolerirnya. Pada kunjungan pertama, ia hanya dikenakan RM 8 (sekitar Rp 30 ribu) untuk nasi dengan lauk daging dan satu jenis sayuran. Kemudian, pada kunjungan kedua, ia membayar RM 11 (sekitar Rp 42 ribu) untuk nasi dengan tiga pilihan sayuran.

Namun, pengalaman pahit terjadi saat kunjungan ketiganya. Ia terkejut saat mengetahui harga yang harus dibayarnya mencapai RM 18. Ia merasa ada ketidakberesan dan menuduh pihak penjual tidak transparan dalam menetapkan harga. Hu kemudian mendesak agar penjual lebih terbuka dalam mencantumkan harga setiap komponen makanan, sehingga pelanggan dapat mengetahui rincian biaya yang harus dikeluarkan.

"Seharusnya ada daftar harga yang jelas dan bisa dilihat oleh pelanggan," ujarnya.

Kasus yang dialami Hu ini bukan satu-satunya. Seorang temannya juga pernah mengalami hal serupa dan bahkan telah melaporkan kejadian tersebut ke Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Urusan Konsumen (KPDN). Hu sendiri berencana untuk melakukan tindakan serupa agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.

Bantahan dari Pihak Gerai Nasi Campur

Pihak gerai nasi campur yang namanya tidak disebutkan memberikan tanggapan atas keluhan yang disampaikan Hu. Seorang juru bicara membantah tuduhan tersebut dan mengklaim bahwa pelanggan tidak pernah menanyakan harga sebelum memesan. Mereka juga menegaskan tidak akan memaksa pelanggan untuk membayar jika merasa harga tidak sesuai.

Menurut juru bicara tersebut, Hu memesan porsi besar yang cukup untuk dua orang dan memilih lauk berupa perut babi yang harganya cukup mahal, yakni mencapai RM 40 per kilogram. Ia juga menambahkan bahwa harga yang dikenakan sesuai dengan ukuran porsi yang dipesan.

"Kami belum pernah menerima keluhan terkait harga sebelumnya. Jika pelanggan merasa harga kami tidak masuk akal, mereka bebas untuk mencari tempat makan lain," tegasnya.

Kasus Serupa Pernah Terjadi

Sebelumnya, kasus serupa juga pernah terjadi di Malaysia. Seorang pria mengeluhkan harga nasi campur yang mencapai RM 13 (sekitar Rp 50 ribu). Ia bahkan sampai marah dan diduga menampar pelayan karena tidak terima dengan harga yang dianggap terlalu mahal tersebut.

Kejadian-kejadian ini menjadi sorotan dan memicu perdebatan mengenai transparansi harga di warung makan atau gerai nasi campur. Banyak pelanggan berharap agar penjual lebih terbuka dalam mencantumkan harga setiap lauk dan sayuran, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dan kekecewaan di kemudian hari.

Kementrian Perdagangan Dalam Negeri dan Urusan Konsumen (KPDN) diharapkan dapat mengambil tindakan tegas terhadap pedagang yang terbukti melakukan praktik penentuan harga yang tidak wajar dan merugikan konsumen.