KTT ASEAN 2025: Peluang Pembentukan ASEAN-JETP untuk Transisi Energi Regional

Pertemuan puncak ASEAN ke-46 membuka cakrawala baru bagi kerjasama regional dalam bidang transisi energi. Institute for Essential Services Reform (IESR) melihat potensi besar dalam pembentukan ASEAN Just Energy Transition Partnership (ASEAN-JETP), sebuah inisiatif yang dapat mengumpulkan pendanaan signifikan untuk mempercepat peralihan ke energi bersih di kawasan Asia Tenggara.

Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR, menyatakan bahwa ASEAN-JETP berpotensi mengumpulkan dana hingga 130 miliar dolar AS per tahun hingga tahun 2030, atau setara dengan Rp 2.000 triliun. Skema pendanaan ini terinspirasi dari keberhasilan JETP yang telah diterapkan di Indonesia, Vietnam, dan Afrika Selatan. Tujuan utama dari ASEAN-JETP adalah menciptakan mekanisme pembiayaan bersama yang dapat menarik pinjaman lunak, hibah, dan investasi swasta untuk mendukung percepatan penghentian operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara yang sudah tua dan mendorong pengembangan energi bersih secara masif.

Inisiatif ASEAN-JETP akan difokuskan pada peta jalan regional yang dirancang untuk mempercepat transisi menuju sistem energi yang bersih dan berkelanjutan. Beberapa prioritas utama yang diusung dalam inisiatif ini antara lain:

  • Menjadikan ASEAN sebagai pusat manufaktur dan perdagangan teknologi bersih: Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi hijau di kawasan dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan.
  • Mempercepat integrasi kelistrikan lintas batas melalui ASEAN Power Grid: Dengan menghubungkan jaringan listrik antar negara anggota, ASEAN dapat meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
  • Memperkuat industri manufaktur dan perdagangan energi bersih melalui strategi zonasi industri dan tata kelola mineral kritis: Hal ini akan memastikan pasokan bahan baku yang berkelanjutan untuk industri energi bersih dan mendorong investasi di sektor ini.
  • Mendorong penguatan pembiayaan hijau melalui platform investasi hijau ASEAN: Hal ini akan memobilisasi dana dari sektor publik dan swasta untuk mendukung proyek-proyek energi bersih di kawasan ini.

KTT ASEAN yang berlangsung hingga 26 Mei 2025 telah menghasilkan dokumen visi jangka panjang "ASEAN 2045: Our Shared Future". Dalam dokumen ini, isu iklim dan keberlanjutan dibahas secara khusus pada Tujuan Strategis 2 tentang Komunitas Berkelanjutan. Tujuan ini mencakup isu-isu penting seperti transisi energi yang berkeadilan, pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, pembiayaan hijau, serta transformasi sektor mobilitas dan pariwisata.

IESR menilai bahwa negara-negara ASEAN telah menyadari pentingnya mempercepat transisi energi dan mengatasi dinamika geopolitik yang kompleks. Namun, hasil KTT belum menunjukkan terobosan yang signifikan untuk memastikan bahwa transisi energi berjalan adil dan merata bagi seluruh negara anggota.

Arief Rosadi, Manajer Program Diplomasi Iklim dan Energi IESR, menyoroti tantangan kelembagaan yang perlu diatasi dalam merencanakan dan melaksanakan aksi mitigasi isu iklim dan energi di tingkat regional. Ia menjelaskan bahwa isu iklim dikelola dalam pilar sosial budaya ASEAN, sedangkan isu energi dikelola oleh pilar ekonomi. Hal ini menyebabkan proses perencanaan dan pelaksanaan mitigasi iklim di sektor energi menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, Arief menekankan perlunya penguatan koordinasi antar pilar di ASEAN untuk mencapai tujuan transisi energi yang efektif.