Kisah Persahabatan Unik: Miki dan Laksmi, Ular Sanca yang Menjelajahi Ruang Publik Surabaya

Di jantung Kota Surabaya, di tengah hiruk pikuk aktivitas Car Free Day (CFD) di Jalan Raya Darmo, terlihat pemandangan yang tak biasa. Seorang pria bernama Miki, dengan seekor ular sanca kembang melingkar di tubuhnya, menjadi pusat perhatian. Ular itu bernama Laksmi, sahabat reptil yang telah dipelihara Miki sejak menetas.

Setiap akhir pekan, Miki mengajak Laksmi berkeliling taman-taman kota, mengenalkan reptil ini kepada masyarakat. Mereka berdua kerap terlihat di sekitar Taman Bungkul, menghibur dan mengedukasi pengunjung tentang ular. Miki dengan sabar menjawab pertanyaan, membiarkan orang-orang menyentuh dan berfoto bersama Laksmi, menghilangkan rasa takut dan prasangka yang seringkali melekat pada hewan melata ini.

Kisah persahabatan Miki dan Laksmi dimulai tiga tahun lalu, dengan penemuan yang tak terduga. Miki menemukan sebuah telur terkubur di balik semak-semak dekat rumahnya. Telur itu berukuran dua kali lebih besar dari telur burung biasa. Merasa aneh dan khawatir telur tersebut akan dimangsa hewan lain, Miki membawanya ke pusat penangkaran hewan terdekat. Di sana, telur itu diinkubasi dan dirawat dengan baik.

Setelah hampir tiga bulan, telur itu akhirnya menetas. Betapa terkejutnya Miki ketika mengetahui bahwa itu adalah seekor ular sanca kembang betina yang cantik. Sejak saat itu, Miki merawat Laksmi seperti anaknya sendiri. Ia memberikan perhatian, makanan, dan kasih sayang. Bahkan, Miki pernah mencoba melepaskan Laksmi ke alam bebas, namun ular itu selalu kembali ke rumahnya, seolah ikatan mereka terlalu kuat untuk dipisahkan.

Untuk memperdalam pengetahuannya tentang ular, khususnya sanca kembang, Miki bergabung dengan Reptil Indonesian Python Community. Di komunitas ini, ia belajar tentang perilaku ular, pola makan, dan proses ganti kulit. Bersama teman-teman komunitasnya, Miki sering membawa Laksmi untuk mengedukasi masyarakat tentang reptil. Mereka ingin mengubah pandangan orang bahwa semua reptil itu ganas dan berbahaya.

Miki menjelaskan bahwa ular yang dipelihara sejak kecil akan berbeda dengan ular liar. Ular liar yang ditempatkan di kandang akan mudah stres dan kehilangan nafsu makan. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak merusak habitat ular, karena kerusakan tanaman di sekitar semak-semak bukan disebabkan oleh ular yang memakan tanaman, melainkan karena goresan tubuhnya.

Kehadiran Miki dan Laksmi selalu menarik perhatian banyak orang. Pengunjung CFD, dari anak-anak hingga orang dewasa, antusias untuk berfoto bersama Laksmi. Meskipun ada yang merasa takut dan geli, Miki dengan sabar menjelaskan bahwa Laksmi sudah jinak, tidak berbisa, dan ramah terhadap manusia.

Rika, seorang pengunjung yang memberanikan diri berfoto bersama Laksmi, mengaku bahwa ia selalu penasaran dengan ular. Meskipun awalnya merasa merinding, ia akhirnya berhasil mengatasi rasa takutnya dan mencoba menggendong Laksmi.

Miki berharap, melalui aksi sosialisasinya ini, masyarakat dapat mengubah pandangan mereka terhadap ular dan reptil lainnya. Ia ingin orang-orang tidak serta-merta menangkap dan membunuh ular, karena mereka juga makhluk hidup yang berhak atas kehidupannya. Miki juga mengajak masyarakat untuk melindungi reptil lainnya, seperti kura-kura, biawak, dan iguana, karena semuanya adalah bagian dari keanekaragaman hayati Indonesia.