Trump Tuding Pelanggaran Kesepakatan Dagang, AS Ancam Tindakan terhadap China
Washington Bereaksi Keras Terhadap Dugaan Pelanggaran Kesepakatan Dagang Oleh China
Pemerintahan Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan mantan Presiden Donald Trump, melayangkan tuduhan serius terhadap China terkait dugaan pelanggaran kesepakatan dagang yang sebelumnya telah disepakati. Tuduhan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa China tidak memenuhi komitmennya sebagaimana yang tertuang dalam perjanjian tersebut.
Melalui unggahan di media sosial, Trump secara eksplisit menuduh China telah mengingkari kesepakatan yang bertujuan untuk menghentikan sementara penerapan tarif balasan antara kedua negara. Pernyataan ini mengisyaratkan potensi tindakan balasan dari pihak Amerika Serikat sebagai respons atas dugaan pelanggaran tersebut.
"Selamat tinggal jadi orang baik!" tulis Trump dalam unggahannya, yang mengindikasikan kekecewaan dan ketidakpuasannya terhadap perilaku China. Unggahan ini secara langsung menargetkan kesepakatan yang tadinya diharapkan dapat meredakan ketegangan perdagangan antara kedua negara ekonomi terbesar di dunia.
Tuduhan ini diperkuat oleh pernyataan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, yang mengungkapkan keprihatinan mendalam atas dugaan ketidakpatuhan China terhadap kesepakatan dagang sementara. Greer menyatakan bahwa Amerika Serikat telah bertindak sesuai dengan yang diharapkan, namun pihak China dinilai lambat dalam memenuhi kewajibannya.
Greer menegaskan bahwa situasi ini tidak dapat diterima dan memerlukan tindakan lebih lanjut. Pernyataan ini mencerminkan sikap yang semakin keras dari pemerintahan AS terhadap praktik perdagangan China, yang dianggap tidak adil dan merugikan kepentingan Amerika Serikat.
Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengakui bahwa pembicaraan dagang dengan China sedang mengalami kebuntuan. Hal ini semakin memperburuk prospek penyelesaian sengketa perdagangan antara kedua negara dalam waktu dekat.
Kesepakatan yang dimaksud adalah kesepakatan yang dicapai pada tanggal 12 Mei 2025, di mana kedua negara sepakat untuk menangguhkan sebagian besar tarif yang diberlakukan terhadap impor masing-masing selama 90 hari. Kesepakatan ini dicapai setelah Trump memberlakukan tarif tinggi terhadap impor dari China ke AS, yang kemudian dibalas oleh China dengan tindakan serupa.
Trump juga menyoroti dampak tarif yang sebelumnya diberlakukan terhadap ekonomi China. Ia mengklaim bahwa tarif tersebut telah membuat China kesulitan untuk berdagang ke pasar Amerika Serikat, yang merupakan pasar terbesar di dunia. Namun, dengan adanya kesepakatan tersebut, situasi ekonomi China diklaim telah stabil kembali.
Namun, Trump kemudian menyatakan kekecewaannya atas dugaan pelanggaran kesepakatan oleh China. Ia menuduh China telah sepenuhnya melanggar kesepakatan tersebut, sehingga memicu kemarahan dan ancaman tindakan balasan dari pihak Amerika Serikat.
Reaksi keras Trump ini muncul dua hari setelah ia menyerang seorang jurnalis CNBC di Gedung Putih ketika ditanya tentang istilah "TACO trade," yang merujuk pada frasa "Trump Always Chickens Out". Istilah ini mengacu pada anggapan bahwa Trump sering kali menunda atau mengurangi tarif setelah pasar jatuh akibat kabar tarif baru, yang kemudian membuat pasar naik kembali.