Implikasi Kekeringan Amazon: Studi Ungkap Perubahan Fungsi Hutan dan Dampak Karbon Global

Studi Ungkap Kerentanan Amazon Terhadap Kekeringan dan Dampaknya Terhadap Iklim Global

Sebuah studi jangka panjang yang dikenal sebagai Proyek Esecaflor, yang dimulai pada tahun 2000 oleh kolaborasi ilmuwan Brasil dan Inggris, telah memberikan wawasan penting mengenai dampak potensial kekeringan berkepanjangan di Hutan Hujan Amazon. Penelitian ini, yang berfokus pada simulasi penurunan curah hujan akibat perubahan iklim, mengungkapkan bahwa kekeringan di Amazon dapat memicu konsekuensi yang signifikan bagi iklim global.

Amazon memegang peranan penting dalam siklus karbon global, menyimpan cadangan karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar. Estimasi menunjukkan bahwa hutan hujan ini menyimpan karbon setara dengan dua tahun emisi global. Namun, ketika pohon-pohon mengalami stres atau mati akibat kekeringan, karbon yang tersimpan dilepaskan kembali ke atmosfer, mempercepat pemanasan global.

Untuk memahami dampak kekeringan pada ekosistem Amazon, para peneliti membangun sebuah fasilitas unik di Hutan Nasional Caxiuana. Struktur ini, yang mencakup area seluas satu hektar, menggunakan ribuan panel plastik transparan untuk mengalihkan sekitar separuh curah hujan dari lantai hutan. Tujuannya adalah untuk menciptakan kondisi kekurangan air buatan yang meniru efek penurunan curah hujan akibat perubahan iklim.

Panel-panel tersebut dipasang dengan ketinggian bervariasi, dari satu meter di sisi-sisi hingga empat meter di bagian tengah, dan air dialirkan ke selokan dan parit di sekeliling area tersebut. Sebagai kontrol, area identik di sebelahnya dibiarkan tidak terganggu. Di kedua area tersebut, dipasang berbagai instrumen untuk mengukur kelembapan tanah, suhu udara, pertumbuhan pohon, aliran getah, dan perkembangan akar. Selain itu, dua menara logam dilengkapi dengan radar NASA untuk mengukur kandungan air dalam tanaman, memberikan data tentang tekanan hutan secara keseluruhan. Data ini kemudian diproses di Laboratorium Propulsi Jet NASA di California.

Lucy Rowland, seorang profesor ekologi di Universitas Exeter, menjelaskan bahwa hutan pada awalnya menunjukkan ketahanan terhadap kekeringan. Namun, setelah sekitar delapan tahun, terjadi perubahan signifikan. Para peneliti mengamati penurunan biomassa yang substansial dan kematian pohon-pohon besar, yang mengakibatkan hilangnya sekitar 40 persen dari total berat vegetasi dan karbon yang tersimpan di dalamnya.

Temuan utama studi ini, yang dipublikasikan di jurnal Nature Ecology & Evolution, menyoroti bahwa hutan hujan mengalami perubahan fungsi selama periode hilangnya vegetasi akibat kekeringan. Awalnya, Amazon berfungsi sebagai penyerap karbon, menyerap lebih banyak CO2 daripada yang dilepaskan. Namun, dengan adanya kekeringan, hutan berubah menjadi sumber karbon, melepaskan lebih banyak CO2 ke atmosfer sebelum akhirnya mencapai kondisi stabil kembali.

Studi ini juga memberikan harapan. Meskipun mengalami kekeringan selama puluhan tahun, hutan hujan tidak berubah menjadi sabana atau padang rumput luas seperti yang diprediksi oleh beberapa studi berbasis model sebelumnya. Simulasi kekeringan Esecaflor memiliki kesamaan dengan kondisi ekstrem yang dialami Amazon dalam dua tahun terakhir, ketika sebagian besar hutan hujan mengalami musim kemarau terparah yang pernah tercatat akibat El Nino dan perubahan iklim.

Rowland menjelaskan bahwa El Nino membawa dampak pendek yang intens ke Amazon, termasuk penurunan curah hujan, lonjakan suhu, dan defisit tekanan uap. Sementara eksperimen Esecaflor berfokus pada manipulasi kelembapan tanah untuk mempelajari dampak pergeseran curah hujan jangka panjang, kedua skenario tersebut menunjukkan hilangnya kemampuan hutan untuk menyerap karbon, dengan karbon dilepaskan kembali ke atmosfer dan hilangnya tutupan hutan.