Luapan Air Laut Ancam Pesisir Pangeranan, Normalisasi Sungai Lebak Mendesak Dilakukan

Banjir rob kembali melanda Kelurahan Pangeranan, Bangkalan, Jawa Timur, pada Jumat (30/5/2025), memicu kekhawatiran mendalam di kalangan warga. Bencana yang diakibatkan oleh naiknya permukaan air laut ini diduga kuat disebabkan oleh sedimentasi parah yang menghambat aliran Sungai Lebak, sungai utama yang melintasi wilayah tersebut.

Agus Deni, Lurah Pangeranan, mengungkapkan bahwa pendangkalan Sungai Lebak telah berlangsung selama puluhan tahun tanpa adanya pengerukan yang signifikan. Kondisi ini diperparah dengan curah hujan tinggi dan fenomena pasang air laut, menyebabkan air meluap dan menggenangi pemukiman warga. Pemerintah kelurahan telah berulang kali mengajukan permohonan normalisasi sungai kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, namun realisasinya masih belum pasti. Ketidakpastian ini membuat warga semakin resah, mengingat banjir rob telah menjadi momok tahunan yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan merusak infrastruktur.

Muhammad Hamim, tokoh masyarakat setempat, menambahkan bahwa banjir rob kali ini merupakan yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Ketinggian air mencapai 50 sentimeter, jauh melebihi banjir-banjir sebelumnya. Selain pendangkalan sungai, Hamim juga menyoroti faktor lain yang berkontribusi terhadap banjir, yaitu peningkatan kepadatan penduduk di Kelurahan Pangeranan. Dengan semakin banyaknya bangunan dan lahan terbuka yang tertutup beton, kemampuan tanah untuk menyerap air berkurang drastis, sehingga air laut lebih mudah meluap ke daratan.

Banjir di Kelurahan Pangeranan telah berlangsung selama empat hari terakhir, dengan genangan air yang terjadi setiap hari antara pukul 09.00 hingga 13.00. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi warga, tetapi juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang disebabkan oleh sanitasi yang buruk. Warga berharap pemerintah segera mengambil tindakan konkret untuk mengatasi masalah banjir rob ini, dengan memprioritaskan normalisasi Sungai Lebak dan mempertimbangkan solusi jangka panjang lainnya, seperti pembangunan tanggul atau sistem drainase yang lebih baik.

Berikut adalah beberapa dampak yang dirasakan warga akibat banjir rob ini:

  • Kerusakan Infrastruktur: Jalanan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya mengalami kerusakan akibat terendam air.
  • Gangguan Aktivitas Ekonomi: Aktivitas perdagangan dan transportasi terhambat, menyebabkan kerugian ekonomi bagi warga.
  • Peningkatan Risiko Penyakit: Sanitasi yang buruk akibat banjir meningkatkan risiko penyebaran penyakit seperti diare dan infeksi kulit.
  • Kerugian Material: Rumah-rumah warga terendam air, menyebabkan kerusakan pada perabotan dan barang-barang berharga lainnya.
  • Trauma Psikologis: Banjir yang terjadi berulang-ulang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi warga, terutama anak-anak dan lansia.

Normalisasi Sungai Lebak menjadi solusi utama yang diharapkan warga untuk mengatasi masalah banjir rob ini. Namun, pemerintah juga perlu mempertimbangkan solusi jangka panjang lainnya, seperti pembangunan tanggul, sistem drainase yang lebih baik, dan penataan ruang yang lebih berkelanjutan. Dengan tindakan yang komprehensif dan terkoordinasi, diharapkan Kelurahan Pangeranan dapat terbebas dari ancaman banjir rob dan warganya dapat hidup dengan aman dan nyaman.