Investigasi KNKT: Kebakaran Bus Dipicu Pirolisis Ban Akibat Rem Blong
Investigasi KNKT: Kebakaran Bus Dipicu Pirolisis Ban Akibat Rem Blong
Serangkaian insiden kebakaran bus yang terjadi belakangan ini mendorong Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk melakukan investigasi mendalam. Hasilnya mengungkap bahwa penyebab kebakaran tidak selalu bersumber dari masalah kelistrikan, tetapi juga dapat dipicu oleh kondisi ban yang mengalami pirolisis.
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menjelaskan bahwa pirolisis pada ban dapat terjadi akibat panas ekstrem yang dihasilkan oleh sistem pengereman yang bermasalah. Kondisi ini bermula ketika kampas rem tersangkut dan terus bergesekan dengan tromol, meskipun kendaraan sedang melaju. Gesekan yang terus-menerus ini menghasilkan panas yang sangat tinggi.
"Rem yang tidak berfungsi dengan baik menyebabkan tromol menjadi sangat panas, bahkan melebihi 300 derajat Celsius. Pada suhu ini, proses pirolisis dapat terjadi pada ban," ungkap Soerjanto.
Ahmad Wildan, Senior Investigator KNKT, menambahkan penjelasan lebih detail mengenai proses terjadinya pirolisis. Menurutnya, rem yang seret, seringkali disebabkan oleh rem parkir yang aktif secara tidak sengaja, akan menyebabkan kampas rem dan tromol bergesekan terus-menerus. Kondisi ini seringkali tidak disadari oleh pengemudi.
Gesekan yang berkelanjutan ini meningkatkan temperatur ban secara signifikan. Ketika temperatur mencapai titik pirolisis, tekanan dan temperatur di dalam ban akan naik dengan sangat cepat. "Dalam hitungan detik, ban dapat meledak. Jika terdapat material mudah terbakar di sekitarnya, seperti oli atau uap bahan bakar, kebakaran akan terjadi dan menyebar dengan cepat," jelas Wildan.
Ledakan ban akibat pirolisis menghasilkan suhu yang sangat tinggi dan dapat menjadi pemicu kebakaran yang dahsyat. Keberadaan bahan-bahan mudah terbakar di sekitar ban yang meledak, seperti tumpahan oli atau uap bahan bakar, akan mempercepat penyebaran api dan memperparah dampak kebakaran.