Menjelang Idul Adha, Waspada Peredaran Daging Sapi Gelonggongan: Kenali Ciri dan Dampak Negatifnya
Menjelang perayaan Idul Adha 1446 Hijriah yang jatuh pada tanggal 6 Juni 2025, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap praktik penjualan daging sapi gelonggongan. Praktik ini tidak hanya merugikan konsumen dari segi ekonomi, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan.
Praktik gelonggongan, yaitu memberikan minum air secara paksa dalam jumlah besar kepada hewan sebelum disembelih, bertujuan untuk meningkatkan bobot daging secara signifikan. Namun, tindakan ini memiliki konsekuensi negatif terhadap kualitas daging dan kesehatan hewan. Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Dr drh Denny Widaya Lukman, menegaskan bahwa praktik gelonggongan bertentangan dengan prinsip kesejahteraan hewan dan syariat penyembelihan dalam Islam. Tindakan ini dianggap menyiksa hewan dan tidak mencerminkan prinsip ihsan, yaitu melakukan sesuatu dengan cara terbaik dan memperhatikan kesejahteraan makhluk hidup.
Ciri-ciri Daging Sapi Gelonggongan:
Untuk menghindari pembelian daging sapi gelonggongan, penting bagi masyarakat untuk mengenali ciri-cirinya. Beberapa indikator yang perlu diperhatikan antara lain:
- Perut sapi tampak membesar: Akibat pemberian air berlebihan, perut sapi akan terlihat lebih besar dari ukuran normal.
- Sapi terlihat lemas: Sapi yang digelonggong biasanya dalam kondisi lemas dan tidak bersemangat, bahkan beberapa di antaranya kesulitan untuk berdiri.
- Permukaan daging basah: Setelah disembelih, permukaan daging sapi gelonggongan akan tampak lebih basah dibandingkan daging sapi normal.
- Bobot bersih berkurang setelah air keluar: Ketika digantung, daging gelonggongan akan meneteskan air, dan setelah air keluar, bobot bersih daging akan berkurang secara signifikan.
Dr. Denny menambahkan, identifikasi daging gelonggongan akan lebih sulit jika daging sudah dibekukan. Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk membeli daging dalam kemasan berlabel, sehingga kualitasnya lebih terjamin.
Bahaya Konsumsi Daging Sapi Gelonggongan:
Selain merugikan secara ekonomi, konsumsi daging sapi gelonggongan juga dapat membahayakan kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa daging gelonggongan memiliki kandungan air yang tinggi, sehingga lebih cepat busuk dan rentan terkontaminasi oleh patogen seperti bakteri, virus, dan jamur. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya keracunan makanan.
Penelitian yang dilakukan oleh M Munzilin dan rekan-rekan dari Universitas Syiah Kuala (USK) menunjukkan bahwa praktik gelonggongan menyebabkan lambung sapi terisi air dalam jumlah besar, yang melemahkan kerja jantung. Akibatnya, saat disembelih, tekanan darah sapi menjadi rendah dan darah tidak dapat keluar sepenuhnya dari tubuh. Daging sapi tersebut menjadi mengandung banyak darah dan hemoglobin, sehingga kualitasnya menyerupai daging bangkai.
Firman, seorang dosen dari Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, menjelaskan bahwa darah yang tertinggal dalam daging menjadi media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Hal ini mempercepat proses pembusukan dan meningkatkan risiko infeksi jika daging tersebut dikonsumsi.
Bakteri, virus, dan mikroorganisme lain yang terkandung dalam air gelonggongan dapat terserap ke dalam darah dan daging sapi. Keberadaan mikroorganisme ini memicu proses pembusukan dan mengurangi nilai gizi daging. Konsumsi daging sapi gelonggongan yang telah membusuk dapat menyebabkan mual, muntah, diare, keracunan, hingga berakibat fatal.
Dengan memahami ciri-ciri dan bahaya daging sapi gelonggongan, diharapkan masyarakat dapat lebih berhati-hati dalam memilih daging kurban dan memastikan kesehatan diri serta keluarga.