Polemik Konsumsi Susu 2 Liter Sehari: Benarkah Efektif Meningkatkan Tinggi Badan?
Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) mengenai konsumsi susu sebanyak dua liter per hari dapat meningkatkan tinggi badan menuai beragam reaksi. Klaim tersebut muncul setelah Kepala BGN membagikan pengalamannya terkait tinggi badan kedua putranya yang mencapai 180 sentimeter lebih, yang menurutnya didukung oleh konsumsi susu harian sejak kecil. Namun, pernyataan ini memicu perdebatan di kalangan ahli kesehatan.
DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum, seorang dokter yang cukup dikenal, memberikan tanggapan keras terhadap pernyataan tersebut. Beliau menyebut klaim tersebut menyesatkan. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dua liter lebih tepat sebagai anjuran konsumsi air putih harian, bukan susu. Konsumsi susu sebanyak itu, menurutnya, berpotensi menyebabkan masalah pencernaan seperti kembung atau bahkan diare.
Prioritas Protein Hewani dan Intoleransi Laktosa
Dr. Tan juga menyoroti pentingnya protein hewani bagi anak-anak usia sekolah, yang menurutnya lebih penting daripada susu. Selain itu, beliau menjelaskan bahwa mayoritas penduduk Indonesia yang berasal dari etnis Melayu cenderung mengalami intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa adalah kondisi di mana tubuh kesulitan mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya enzim laktase yang berfungsi memecah laktosa.
Kurangnya enzim laktase menyebabkan laktosa tidak dapat diserap dengan baik oleh tubuh dan akhirnya dikeluarkan melalui usus besar. Proses ini menarik banyak air dari luar usus besar, yang dapat menyebabkan diare dan kram perut.
Susu Formula Terhidrolisa Parsial sebagai Alternatif
Mengingat prevalensi intoleransi laktosa yang tinggi di Indonesia, Dr. Tan menyarankan agar masyarakat Indonesia lebih selektif dalam memilih produk susu. Beliau merekomendasikan susu formula yang diformulasikan khusus, termasuk yang terhidrolisa parsial, untuk meminimalisir risiko intoleransi laktosa. Susu formula terhidrolisa parsial mengandung protein susu yang telah dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga lebih mudah dicerna oleh individu yang memiliki intoleransi laktosa.
Perdebatan mengenai manfaat dan risiko konsumsi susu dalam jumlah besar masih terus berlanjut. Penting bagi masyarakat untuk mempertimbangkan kondisi kesehatan masing-masing dan berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum mengubah pola konsumsi susu secara signifikan.