Eri Cahyadi Tempuh Pendekatan Berbeda dalam Pembinaan Anak Bermasalah di Surabaya
Pemerintah Kota Surabaya mengambil langkah inovatif dalam menangani anak-anak yang terlibat dalam masalah sosial. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengungkapkan perubahan strategi setelah mengevaluasi efektivitas program sebelumnya.
Eri Cahyadi mengakui bahwa program penempatan anak-anak di barak militer, yang dikenal sebagai Sekolah Kebangsaan, memberikan dampak positif pada awalnya. Namun, perubahan perilaku tersebut tidak bertahan lama. "Setelah tiga sampai empat bulan, beberapa anak kembali ke kebiasaan lama," ujarnya.
Melihat hal ini, Eri Cahyadi memilih untuk tidak mengulangi pendekatan serupa dengan mengirimkan kembali anak-anak bermasalah ke barak militer. Sebagai gantinya, Pemerintah Kota Surabaya membuka asrama seperti Kampung Anak Negeri (Kanri) dan meluncurkan program "1 Sarjana 1 Keluarga Miskin". Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan lingkungan yang suportif dan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak yang membutuhkan.
Pemerintah Kota Surabaya juga memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anak yang bersedia tinggal di asrama dan mematuhi aturan yang ditetapkan, termasuk kewajiban berada di rumah sebelum pukul 22.00 WIB. "Jika keluarga tidak mampu membiayai pendidikan, serahkan kepada Pemkot Surabaya. Kami akan menyekolahkan mereka dan mengarahkan mereka ke Kampung Anak Negeri atau Asrama Bibit Unggul," tegas Eri.
Eri Cahyadi menekankan bahwa program ini dirancang untuk mengubah persepsi anak-anak yang berhadapan dengan hukum, yang seringkali menganggap hukuman fisik sebagai satu-satunya solusi. Melalui pendekatan yang lebih manusiawi dan fokus pada pendidikan, Pemerintah Kota Surabaya berharap dapat memberikan kesempatan kedua bagi anak-anak ini untuk meraih masa depan yang lebih baik.
"Jika keluarga tidak mampu, kami akan membantu melalui sekolah dan asrama Kanri atau Bibit Unggul. Namun, jika keluarga masih mampu, mereka tetap harus terlibat dalam pengawasan bersama. Inilah semangat gotong-royong yang kami kedepankan," kata Eri.
Program ini menyediakan kuota untuk 200 anak di Asrama Bibit Unggul melalui program "Satu Keluarga Satu Sarjana", serta 200 kuota tambahan untuk siswa SMP dan SMA. Eri Cahyadi juga menegaskan komitmennya untuk menjaga privasi warga yang ia kunjungi dan membantu, sehingga mereka tidak merasa malu atau minder.
Sejak tahun 2022, Eri Cahyadi telah aktif bergerak untuk memberikan solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan bagi anak-anak bermasalah di Surabaya. Melalui pendekatan yang inovatif dan kolaboratif, Pemerintah Kota Surabaya berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua anak untuk berkembang dan meraih potensi mereka.