Waspada! Kasus Asma pada Anak Meningkat, Deteksi Dini Jadi Kunci
Penyakit asma masih menjadi momok kesehatan, terutama bagi anak-anak. Data terbaru menunjukkan adanya peningkatan kasus asma pada kelompok usia muda, sehingga deteksi dini menjadi sangat krusial. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam sebuah webinar daring mengingatkan para orang tua dan tenaga kesehatan untuk lebih waspada terhadap gejala asma pada anak.
Dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp.Respi(K), Sekretaris Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, menyampaikan bahwa prevalensi asma pada anak cenderung lebih tinggi dibandingkan pada orang dewasa. Secara global, diperkirakan sekitar 20% anak-anak menderita asma. Angka ini setara dengan 300 juta orang di seluruh dunia dan diprediksi akan terus meningkat hingga mencapai 400 juta pada tahun 2025. Di Indonesia sendiri, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa sekitar 4,5% populasi atau sekitar 12 juta orang mengidap asma. Tingginya angka kekambuhan dan terbatasnya akses terhadap obat-obatan inhalasi menjadi tantangan utama dalam pengendalian penyakit asma di Indonesia.
Mengenali Gejala Asma pada Anak
Asma merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh peradangan saluran pernapasan yang bersifat alergik. Saluran pernapasan anak-anak yang menderita asma menjadi lebih sensitif dan mudah menyempit ketika terpapar pemicu seperti:
- Debu
- Polusi
- Aktivitas fisik berlebihan
Dr. Wahyuni mengibaratkan saluran pernapasan anak dengan asma seperti daun putri malu yang langsung menguncup, bengkak, dan memproduksi lendir berlebihan saat terpapar pemicu.
Gejala khas asma pada anak meliputi:
- Batuk berulang
- Sesak napas
- Napas berbunyi mengi (ngik-ngik), terutama pada malam atau dini hari.
IDAI menggunakan akronim EFTAR untuk membantu mengenali asma:
- Episodik: Gejala muncul berulang.
- Faktor pencetus: Seperti alergen, cuaca, atau aktivitas.
- Trigger (pencetus): Polusi, asap rokok, makanan tertentu.
- Alergi: Riwayat alergi pada anak atau keluarganya.
- Reversibilitas: Gejala membaik dengan obat.
Pemeriksaan fungsi paru atau penggunaan alat seperti peak flow meter juga dapat membantu menegakkan diagnosis asma.
Penanganan Asma: Pengendalian Jangka Panjang
Tujuan utama penanganan asma adalah mengendalikan gejala agar anak dapat beraktivitas normal tanpa terganggu serangan asma. Meskipun faktor keturunan tidak dapat diubah, gejala asma dapat dikendalikan dengan mengenali dan menghindari pemicu gejala, seperti debu rumah, bulu hewan, makanan dengan pengawet atau MSG, dan asap rokok. Jika gejala muncul, penanganan pertama adalah pemberian obat untuk meredakan sesak, biasanya dalam bentuk inhalasi. Dengan deteksi dini dan pengelolaan yang tepat, anak-anak dengan asma dapat tumbuh sehat dan aktif seperti anak lainnya.