Revitalisasi Tak Kunjung Usai, Siswa SDN Cikini 01 Terpaksa Berbagi Gedung Sekolah
Proyek revitalisasi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cikini 01 di Jakarta Pusat mengalami keterlambatan yang signifikan, menyebabkan para siswa dan guru harus menumpang di gedung sekolah lain untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar. Kondisi ini telah berlangsung lebih dari satu tahun, menimbulkan berbagai kendala dan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat.
Sejak Maret 2024, SDN Cikini 01 berbagi fasilitas dengan SDN Gondangdia 05 Jakarta Pusat. Sistem pembelajaran dilakukan secara bergantian, dengan SDN Gondangdia 05 menggunakan ruang kelas pada pagi hari hingga pukul 12.00 WIB, kemudian dilanjutkan oleh siswa SDN Cikini 01 mulai pukul 12.30 WIB hingga 17.00 WIB. Situasi ini, menurut Kepala Sekolah SDN Cikini 01, Bestiana Manihuruk, jauh dari ideal karena keterbatasan ruang dan penyesuaian jadwal yang tidak lazim.
"Satu ruangan harus berfungsi ganda sebagai kelas, ruang kepala sekolah, dan ruang operator. Banyak guru terpaksa bekerja di luar ruangan karena keterbatasan tempat," ungkap Bestiana. Ia juga menyoroti dampak negatif perubahan jam belajar terhadap semangat belajar siswa, terutama bagi siswa kelas 1 dan 2 yang terbiasa belajar di pagi hari. "Anak-anak menjadi mudah lelah karena harus belajar di siang hingga sore hari. Orang tua pun merasakan dampaknya," tambahnya.
Keterbatasan ruang juga berdampak pada kegiatan ekstrakurikuler dan persiapan ujian seperti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Pihak sekolah menghadapi kendala teknis, termasuk keterbatasan daya listrik yang memaksa mereka untuk mematikan pendingin ruangan saat menggunakan komputer. Meskipun demikian, pihak sekolah telah berupaya melakukan sosialisasi dan edukasi kepada orang tua murid untuk tetap memberikan dukungan kepada anak-anak selama proses belajar mengajar di gedung sementara.
Di tengah situasi yang menantang ini, SDN Cikini 01 tetap membuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk tahun ajaran 2025/2026 di gedung sementara. Bestiana mengungkapkan bahwa banyak orang tua berharap anak-anak mereka dapat segera belajar di gedung baru, namun ia belum dapat memberikan jaminan kapan revitalisasi akan selesai. Ia pun menyayangkan keterlambatan proyek revitalisasi yang terus berulang. Pihaknya telah menerima janji penyelesaian pada bulan April, kemudian mundur ke Mei, dan terbaru Juni 2025, namun kenyataannya proyek tersebut masih jauh dari selesai.
Kepala SDN Gondangdia 05, Farida, menyatakan bahwa pihaknya tidak keberatan menampung sementara siswa-siswi dari SDN Cikini 01 karena kedua sekolah berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Jakarta. Ia memastikan bahwa tidak ada tumpang tindih jadwal dan kendala dalam penggunaan fasilitas umum karena kegiatan belajar mengajar dilakukan secara bergantian. Ruang perpustakaan bahkan difungsikan sementara sebagai ruang guru untuk para guru SDN Cikini 01.
Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Kepala Satgas II Direktorat Koordinasi dan Supervisi (Korsup) Wilayah II, Dwi Aprilia Linda Astuti, mengungkapkan bahwa proyek pembangunan enam sekolah dasar di Jakarta mengalami deviasi progres hingga minus 31 persen dari target. Keterlambatan ini tercatat dalam evaluasi Monitoring Controlling Surveillance for Prevention (MCSP) 2024. KPK mendorong Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk berkoordinasi intensif dengan inspektorat untuk menyelesaikan permasalahan ini. Proyek-proyek yang mengalami keterlambatan tersebut di antaranya pembangunan SDN Kampung Bali 01, SDN Pasar Baru 01/03/05, serta TK Negeri Sawah Besar. Hingga saat ini, rata-rata progres fisik baru mencapai 84,90 persen.
KPK juga mencatat bahwa area pengadaan barang dan jasa (PBJ) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta masih tergolong rawan. Skor area PBJ hanya mencapai 71, sementara subindikator independensi Unit Kerja Pengadaan Barang dan Jasa (UKPBJ) lebih rendah lagi di angka 46.
Berikut rincian beberapa kendala yang dihadapi selama revitalisasi berlangsung:
- Keterbatasan ruang kelas yang memaksa penggunaan satu ruangan untuk berbagai fungsi.
- Perubahan jadwal belajar yang mempengaruhi semangat siswa, terutama siswa kelas 1 dan 2.
- Kesulitan dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler.
- Hambatan teknis dalam persiapan ujian ANBK akibat keterbatasan daya listrik.
- Keterlambatan penyelesaian proyek revitalisasi yang terus berulang.