Program Makan Bergizi Gratis Berpotensi Hasilkan Ratusan Ribu Ton Sisa Makanan Layak Konsumsi
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkapkan potensi timbulan sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan mencapai antara 1,1 juta hingga 1,4 juta ton setiap tahun. Temuan ini didasarkan pada kajian yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Sarwo Edhy, Plt. Sekretaris Utama Bapanas, menjelaskan bahwa dari total volume sisa makanan tersebut, diperkirakan 451.000 hingga 603.000 ton merupakan edible food waste atau sisa makanan yang masih layak dan aman untuk dikonsumsi. Jumlah yang signifikan ini membuka peluang besar untuk menyelamatkan pangan dan mendistribusikannya kepada masyarakat yang membutuhkan.
"Sesuai hasil kajian Bappenas tahun 2024, potensi food waste dari program MBG di sekolah-sekolah diperkirakan mencapai 1,1 juta sampai 1,4 juta ton per tahun," ujar Sarwo Edhy.
Lebih lanjut, Sarwo Edhy menjelaskan bahwa sisa makanan yang masih layak konsumsi tersebut dapat dikemas ulang dan disalurkan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi volume food waste, tetapi juga memberikan dampak positif bagi ketahanan pangan dan membantu memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat rentan.
Selain edible food waste, kajian Bappenas juga mengidentifikasi potensi pemanfaatan inedible food waste atau sisa makanan yang tidak layak konsumsi. Diperkirakan sekitar 671.000 hingga 896.000 ton inedible food waste dapat diolah menjadi pakan ternak, kompos, atau produk lain yang sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi sirkular.
Bapanas menekankan pentingnya penerapan prinsip 9R dalam pengelolaan sisa makanan dari program MBG. Prinsip 9R meliputi:
- Refuse (Menolak)
- Rethink (Memikirkan kembali)
- Reduce (Mengurangi)
- Reuse (Menggunakan kembali)
- Repair (Memperbaiki)
- Refurbish (Memperbarui)
- Remanufacture (Memproduksi ulang)
- Repurpose (Mengubah fungsi)
- Recycle (Mendaur ulang)
Penerapan prinsip-prinsip ini diharapkan dapat meminimalkan food waste dan memaksimalkan nilai ekonomis dari sisa makanan. Bapanas optimis bahwa dengan pengelolaan yang tepat, sisa makanan dari program MBG dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat dan lingkungan.
Sarwo Edhy mencontohkan, sisa kue yang masih layak konsumsi dapat dikemas ulang dan dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan, seperti mereka yang tinggal di kolong jembatan atau kelompok rentan lainnya. Sementara itu, sisa makanan yang sudah tidak layak konsumsi dapat diolah menjadi pupuk kompos.
"Sehingga untuk program ekonomi sirkular ini bisa tercapai, artinya tidak ada makanan yang terbuang sama sekali," pungkas Sarwo Edhy.