Asupan Gizi Memegang Peranan Penting dalam Pertumbuhan Tinggi Badan, Bukan Sekadar Faktor Genetik
Pertumbuhan tinggi badan individu tidak semata-mata ditentukan oleh faktor genetik, melainkan sangat dipengaruhi oleh asupan gizi yang memadai dan seimbang. Penegasan ini disampaikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, dalam sebuah forum di Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil, Bangkalan.
"Tinggi badan bukan hanya sekadar urusan genetika, tetapi juga soal bagaimana kita memenuhi kebutuhan gizi dengan tepat dan seimbang," ujarnya menekankan. Dadan memaparkan bahwa terdapat dua fase krusial dalam pertumbuhan manusia. Pertama, adalah periode 1.000 hari pertama kehidupan, yang merupakan fondasi penting bagi perkembangan otak. Kedua, masa remaja, yang menjadi tonggak krusial dalam pertumbuhan fisik.
Ia menyoroti bahwa tanpa intervensi gizi yang tepat, potensi tinggi badan remaja hanya akan berkisar antara 160 hingga 165 cm. Namun, dengan pemenuhan gizi yang optimal, misalnya melalui konsumsi susu secara teratur, tinggi badan dapat meningkat hingga mencapai 180 cm. Dadan memberikan contoh konkret dari kedua putranya yang memiliki tinggi badan 181 cm dan 185 cm. Keberhasilan ini, menurutnya, adalah hasil dari pemberian susu secara rutin sejak usia dini, bahkan mencapai dua liter per hari. "Hal ini berdampak pada ukuran tulang yang besar dan postur tubuh yang tinggi. Jadi, tinggi badan bukan hanya ditentukan oleh genetik, tetapi juga oleh makanan yang kita konsumsi," tegasnya.
Namun, fakta yang memprihatinkan adalah bahwa 60 persen anak-anak di Indonesia belum memiliki akses terhadap makanan bergizi seimbang. Mereka cenderung mengandalkan makanan sederhana seperti nasi dengan mi instan, bakwan, atau kerupuk. Selain itu, Dadan juga mengungkapkan bahwa 60 persen anak-anak Indonesia tidak mengonsumsi susu, bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena keterbatasan ekonomi.
Kondisi inilah yang mendorong BGN untuk menggagas program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap menu makanan yang diberikan selalu mengandung unsur-unsur gizi yang lengkap, seperti nasi, telur, ayam, ikan, sayur, buah, dan susu. "Ini adalah standar gizi seimbang yang wajib kita penuhi," jelas Dadan.
Ia mewanti-wanti bahwa jika kebutuhan gizi tidak terpenuhi, remaja yang saat ini masih bersekolah tidak akan dapat tumbuh secara optimal. Hal ini, menurutnya, dapat menghambat pencapaian cita-cita Indonesia Emas pada tahun 2045 mendatang. "Jika gizi tidak dipenuhi sejak sekarang, kita khawatir bonus demografi hanya akan menjadi sekadar angka, bukan kualitas. Intervensi gizi adalah kunci utama," tegas Dadan. "Jika kita tidak melakukan intervensi sekarang dengan memberikan gizi seimbang, kemungkinan besar tubuh mereka akan cenderung pendek."
Dengan demikian, Dadan menekankan pentingnya kesadaran dan tindakan nyata dalam pemenuhan gizi anak-anak dan remaja Indonesia. Investasi dalam gizi yang baik adalah investasi jangka panjang untuk mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.