DPR Dorong Sosialisasi Intensif Nusuk Digital untuk Optimalisasi Ibadah Haji

Digitalisasi Haji: Solusi atau Tantangan? Dewan Perwakilan Rakyat Soroti Implementasi Nusuk Digital

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyoroti implementasi Kartu Nusuk Digital sebagai bagian dari penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Anggota Komisi VIII DPR, Selly Andriany Gantina, menyatakan bahwa Kartu Nusuk Digital, yang dapat diakses melalui aplikasi Tawakkalna dan Nusuk, merupakan terobosan positif. Namun, ia menekankan pentingnya sosialisasi yang lebih intensif kepada jemaah haji, terutama bagi mereka yang lanjut usia (lansia).

"Ini merupakan terobosan positif, namun perlu digarisbawahi bahwa tidak semua jemaah langsung memperoleh kartu tersebut saat tiba di Arab Saudi," ujar Selly.

Keterlambatan penerbitan Kartu Nusuk menjadi perhatian utama. Proses penerbitan kartu masih bergantung pada responsivitas syarikah, perusahaan yang bertanggung jawab dalam menyediakan layanan haji. Tidak semua syarikah bertindak cepat dalam menindaklanjuti kebutuhan jemaah, sehingga menyebabkan kesulitan bagi sebagian jemaah untuk mengakses Masjidil Haram dan melaksanakan ibadah.

Peran Aktif Petugas Haji dan Pentingnya Sosialisasi

Menanggapi permasalahan ini, Selly mengingatkan agar petugas haji di setiap hotel terus berkoordinasi secara intensif dengan syarikah untuk mempercepat proses penerbitan kartu. Layanan Nusuk Care juga telah disiapkan di setiap hotel oleh syarikah, dan jemaah diimbau untuk bersabar serta aktif berkonsultasi dengan petugas haji, khususnya di bidang akomodasi hotel.

Aplikasi Tawakkalna, yang telah diperbarui oleh pemerintah Arab Saudi, memegang peranan penting dalam mengakses Kartu Nusuk Digital. Aplikasi ini juga menyediakan berbagai fitur penting lainnya, seperti layanan ibadah, kesehatan, kedaruratan, dan akses kunjungan ke tempat-tempat tertentu. Di dalamnya juga tersedia kartu Tasreh dan dokumen-dokumen penunjang lain yang diperlukan selama pelaksanaan ibadah.

"Sosialisasi terus dilakukan karena Tawakkalna tidak hanya menjadi pintu akses Kartu Nusuk Digital, tetapi juga memuat berbagai fitur penting," jelas Selly.

Oleh karena itu, pendampingan aktif dari petugas sangat diperlukan, terutama dalam menjelaskan fungsi dan cara penggunaan aplikasi ini kepada jemaah lansia yang mungkin memiliki keterbatasan dalam memahami teknologi digital. DPR berharap dengan upaya bersama, jemaah haji Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan lancar dan tenang. Peningkatan koordinasi antara pemerintah Indonesia dan Arab Saudi juga menjadi kunci untuk mengatasi kendala yang ada.

Tantangan dan Solusi dalam Implementasi Nusuk Digital

Implementasi Nusuk Digital membawa harapan untuk mempermudah dan meningkatkan efisiensi penyelenggaraan ibadah haji. Namun, tantangan seperti kesenjangan digital, responsivitas syarikah, dan koordinasi lintas sektoral perlu diatasi. Sosialisasi yang efektif, pendampingan yang memadai, dan evaluasi berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan program ini. Dengan demikian, Nusuk Digital dapat benar-benar menjadi solusi bagi permasalahan jemaah haji dan mewujudkan ibadah yang lancar dan bermakna.