Kim Jong Un Murka: Sejumlah Pejabat Tinggi Korut Diciduk Pasca-Insiden Peluncuran Kapal Perang
Gelombang penangkapan pejabat tinggi kembali terjadi di Korea Utara, menyusul insiden memalukan saat peluncuran kapal perang baru pekan lalu. Kemarahan pemimpin tertinggi, Kim Jong Un, diduga menjadi pemicu tindakan tegas ini.
Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) melaporkan bahwa Ri Hyong Son, seorang wakil direktur di Departemen Industri Amunisi Komite Sentral Partai, kini berada dalam tahanan. Ia dianggap sebagai sosok kunci yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa kapal perusak berbobot 5.000 ton tersebut. Penahanan Ri Hyong Son menambah daftar panjang pejabat yang diperiksa terkait insiden ini.
Menurut laporan media pemerintah Korea Utara, insiden tersebut dikategorikan sebagai "kecelakaan serius" yang mengakibatkan kerusakan pada bagian bawah kapal. Peristiwa ini terjadi pada Rabu, 21 Mei 2025, saat upacara peluncuran kapal perang yang digadang-gadang menjadi kebanggaan Angkatan Laut Korea Utara.
Kim Jong Un, dalam reaksinya terhadap insiden tersebut, mengecam keras apa yang disebutnya sebagai tindakan kriminal akibat kecerobohan fatal. Pernyataan keras ini mengindikasikan kemarahan yang mendalam atas kegagalan tersebut.
Deretan Pejabat yang Jadi Sasaran Investigasi
Ri Hyong Son bukan satu-satunya yang merasakan dampak dari insiden ini. Sebelum penahanannya, tiga pejabat lain telah lebih dulu diamankan pada akhir pekan lalu. Di antara mereka termasuk kepala teknisi galangan kapal yang dianggap memiliki peran sentral dalam proses pembangunan kapal perang tersebut.
Selain itu, manajer galangan kapal bernama Hong Kil Ho juga turut dipanggil dan diamankan oleh pihak berwenang pada hari Jumat. Tindakan ini menunjukkan bahwa investigasi dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap akar permasalahan dan mencari pihak yang bertanggung jawab.
KCNA juga memberikan informasi mengenai upaya pemulihan kapal perang yang mengalami kerusakan. Menurut laporan tersebut, proses perbaikan dan penyeimbangan kapal sedang berjalan sesuai rencana.
"Di lokasi kecelakaan peluncuran kapal perusak, pekerjaan untuk memulihkan keseimbangan kapal perang secara menyeluruh sedang dilakukan secara aktif," tulis KCNA.
Analisis dari Luar: Kegagalan Peluncuran dan Dugaan Bantuan Asing
Sementara itu, militer Korea Selatan memberikan analisis berdasarkan data intelijen gabungan dengan Amerika Serikat (AS). Mereka mengindikasikan bahwa peluncuran kapal dari sisi samping mengalami kegagalan, menyebabkan kapal miring di permukaan air.
Namun, klaim ini dibantah oleh KCNA. Media pemerintah Korea Utara bersikeras bahwa pemeriksaan menyeluruh, baik di bawah permukaan maupun di dalam kapal, tidak menemukan adanya kerusakan serius pada bagian dasar. Kerusakan yang terjadi disebut minimal dan tidak mengancam integritas kapal.
Kapal perang yang mengalami kecelakaan ini diduga memiliki spesifikasi serupa dengan kapal perusak kelas Choe Hyon seberat 5.000 ton, yang diluncurkan pada bulan sebelumnya. Pyongyang mengklaim bahwa kapal Choe Hyon dilengkapi dengan sistem persenjataan tercanggih dan dijadwalkan untuk mulai beroperasi pada awal tahun depan.
Muncul spekulasi bahwa pengembangan kapal perang tersebut mendapat bantuan dari Rusia. Dugaan ini muncul sebagai imbalan atas pengerahan ribuan pasukan Korea Utara untuk mendukung operasi militer Moskwa di Ukraina.