Purwakarta Dilanda Pergerakan Tanah Berulang, Puluhan Rumah Rusak, Status Siaga Diberlakukan

Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kembali menghadapi tantangan serius akibat pergerakan tanah yang terjadi berulang kali di wilayah Desa Pasirmunjul, Kecamatan Sukatani. Fenomena alam ini, yang melanda Kampung Cigintung dan Kampung Sukamulya, telah menyebabkan kerusakan signifikan pada puluhan rumah warga dan memicu kekhawatiran akan potensi bahaya yang lebih besar.

Kronologi Peristiwa dan Dampak Kerusakan

Pergerakan tanah pertama kali tercatat pada Minggu, 20 April 2025, sekitar pukul 22.00 WIB. Kejadian ini disusul oleh pergerakan kedua pada Rabu, 23 April 2025, pukul 20.00 WIB, dan yang ketiga pada Senin, 19 Mei 2025, pukul 07.00 WIB. Dampak dari serangkaian pergerakan tanah ini sangat terasa, dengan total 48 rumah mengalami kerusakan dengan rincian:

  • 41 rumah mengalami kerusakan ringan
  • 5 rumah mengalami kerusakan sedang
  • 2 rumah mengalami kerusakan berat

Analisis Badan Geologi

Badan Geologi melalui keterangan analisisnya menjelaskan bahwa pergerakan tanah ini berupa rayapan yang ditandai dengan munculnya retakan pada permukaan tanah dan bangunan. Gerakan tanah ini bersifat lambat, namun dampaknya meluas. Morfologi daerah bencana berupa perbukitan dengan kemiringan lereng agak curam hingga curam, berada pada ketinggian 370 meter di atas permukaan laut.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Cianjur, batuan penyusun daerah bencana terdiri dari endapan Aluvium Tua yang mengandung konglomerat dan pasir sungai bersusunan andesit serta basal, serta endapan batupasir tufan dan konglomerat yang berasal dari endapan lahar.

Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada Mei 2025 menunjukkan bahwa lokasi tersebut berada di zona potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi. Ini berarti daerah tersebut memiliki potensi tinggi untuk mengalami gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan tinggi atau di atas normal, terutama di daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan.

Faktor Penyebab Pergerakan Tanah

Beberapa faktor utama yang menjadi penyebab pergerakan tanah di lokasi ini adalah:

  • Kemiringan lereng yang curam
  • Tanah pelapukan yang tebal dan mudah jenuh air
  • Curah hujan tinggi

Tanah pelapukan yang tebal bersifat poros dan mudah jenuh, sementara curah hujan tinggi menyebabkan tanah menjadi jenuh air, mempercepat pergerakan tanah.

Rekomendasi dan Tindakan Pencegahan

Mengingat kondisi tanah yang masih rawan dan curah hujan yang sering terjadi, Badan Geologi memberikan beberapa rekomendasi agar warga lebih waspada, terutama saat hujan. Beberapa tindakan yang disarankan adalah:

  • Tidak menggunakan bagian rumah yang rusak berat
  • Segera memperbaiki bangunan yang rusak
  • Memantau perkembangan retakan dan nendatan
  • Melaporkan perkembangan retakan atau rembesan air baru ke pemerintah daerah setempat

Jika retakan meluas, pemukiman yang terdampak direkomendasikan untuk direlokasi ke tempat yang lebih aman. Selain itu, penanganan teknis seperti menutup retakan dengan tanah liat dan memadatkannya untuk memperlambat masuknya air ke dalam tanah juga penting. Lereng disarankan untuk ditanami dengan tanaman berakar kuat dan dalam yang mampu mengikat tanah. Pengendalian air permukaan yang kedap air dengan cara perencanaan tata saluran permukaan, pengendalian air rembesan serta pengaliran parit pencegat yang diarahkan ke sungai juga diperlukan untuk mencegah pergerakan tanah lebih lanjut.